Sebuah Surat untuk Masa Depan

Hai para sobat blogger..
Gimana kabarnya hari ini?
Hmmmh hari ini yang lagi seru pengumuman presiden tentang virus corona ya😌.

Sebagai ABG beranak tiga😅 jelas mak’e juga lumayan worry😣.
Lah beranda FB dan story WA isinya corona semua sobat😣.
Tapi disisi lain mak’e tetep mencoba stay calm, don’t panic.

Karena sudah tahu ya,, ajaran islam mengatakan bahwa “Tak ada penyakit yang MENULAR”. Mak’e muslim kamu juga..Yes, pasrahkan semua pada Allah.
Banyak-banyak berdoa, semoga kita semua dilindungi dan diberi kesehatan ya sobat blogger. Aamiin

💌💌💌

Ok,  sesuai dengan judul ya.
Jadi ceritanya mak’e tuh kemarin malem ngecheck lah itu pdf tentang syarat dan ketentuan lomba menulis surat. Dengan PDnya mau ngelanjut nulis kan. Kirain loh ya,, itu tuh terakhir ngumpulin tanggal 14 maret. Welah ga tahunya..

Tet tot..
Terakhir pengumpulan tanggal 1 marer sobat.
Ambayarrrr pemirsah🤪

Jadi ya jadi??
Ya sudah belum qodarnya saya ikut lomba😌. Insyaallah lain kesempatan lah ya..

Berhubung mak’e dah bikin surat separuh jalan ya sobat blogger.
Akhirnya ya sudahlah lanjutin aja, buat koleksi pribadi saja di blog 😌.

Langsung selamat membaca aja ya sobat blogger🙏. Mohon maaf kalau bahasanya masih salah disana-sini. Saya masih pemula banget ya.
Baru-baru belajar menulis.


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1s8NxGx5UqaqdBAQef1pl2yyWsffuQiG-


                      Cilegon, 1 Maret 2020


Kepada tiga putriku yang terkasih


Assalamua’laikum wr. wb.


Apakabarnya kalian sayang? Amanah-amanah ibu yang sholihah

Ibu berharap kalian sekarang sudah bertumbuh menjadi perempuan-perempuan yang sholihah dan berahlak mulia. Generasi emas yang cendekia dan islami.


Ketika kalian membaca surat dari ibu ini, insya allah kalian dalam keadaan baik dan sehat. Kalian bukan lagi tiga putri kecil ibu yang menangis karena mengantuk, merengek minta disuapin atau ngambek karena tidak  bisa segera ibu turuti keinginannya. Tetapi ketiga putri kecil ibu yang muda, mandiri dan tangguh.


Tiga putri terkasihku,

Saat menulis surat ini ibu dalam keadaan yang tidaklah mudah. Rumah kecil nan sederhana kita sedang dalam keadaan kacau balau. Barang-barang tersebar dimana-mana. Masih ada sisa bebatuan bata dari penghancuran tembok. Debu dilantai dari semen dan potongan keramik yang digerinda. Karena beberapa minggu ini rumah kecil kita sedang direnovasi.


Ibu menulis sambil menggendong adik bayi yang berusia lima bulan. Karena adik kesulitan tidur dengan suasana rumah yang penuh canda tawa serta tangisan kakak-kakaknya. Kakak pertama yang berusia hampir tujuh tahun sedang menyetrika pakaiannya sendiri. Kakak kedua sedang asyik bermain cacing di ponsel bapak setelah selesai hafalan surat-surat pendek. 


Meski dalam keadaan payah ini, ibu bersyukur sekali dianugerahi kalian. Kalianlah jalan bagi ibu menuju surga. Kalian pula yang dapat mengembalikan fitrah lahiriah ibu sebagai wanita yang lembut dan indah setapak demi setapak. Membuat ibu berjuang menjadi pribadi yang  lebih baik dari hari ke hari. 


Putri pertamaku sayang,.

Seperti nama indahmu yang berarti bidadari berbentuk manusia. Engkau benar-benar menjadi bidadari bagi ibu. Engkau bak cermin diriku yang mengingatkanku. Ketika aku menunjuk satu jari padamu maka keempat jari yang lain tertuju padaku. Engkau yang membuatku memaknai, membasuh serta menerima luka pengasuhan dimasa lalu.


Ada masa dimana ibu kurang sabar dalam membersamaimu. Ibu terus saja menyalahkan takdir yang tak sesuai dengan keinginan. Hingga tuhan menegur ibu lewat dirimu, sakit yang menimpamu menyadarkan ibu untuk kembali menjalankan kewajiban ibu. Kewajiban seorang ibu sebagai pemimpin anak-anak dan harta didalam rumah tangga suami.


Dilain waktu ibu sempat merutuki diri sendiri. Merasa menjadi perempuan tanpa guna, tanpa daya, tak punya prestasi apapun karena hanya dirumah. Dapur, sumur dan kasur begitu katanya pekerjaan berulang-ulang untuk seorang ibu yang kesehariannya didedikasikan hanya dirumah. Bahkan ibu sempat berpikir “Apa bedanya istri dengan seorang pembantu?”.


Sampai akhirnya putri kecil ibu yang saat itu berusia hampir lima tahun berani tampil didepan khalayak ramai. bibir mungil dan suara tinggimu membaca surat Abasa . Ibu terenyuh dan tersadar, engkaulah jawaban dari doa ibu. Seorang penghafal alquran yang menjadi perisai ibu dari api neraka. Penolong bagi sepuluh orang ahli rumahmu. 


Sejak itu sampai hari ini dan seterusnya, ibu selalu punya semangat. Bahwa tak ada yang sia-sia meski ibu hanya dirumah. Ibu yakin, apa yang ibu tanam sekarang pasti akan ada saatnya dituai. Entah dituai dalam kebaikan dunia atau Allah memberinya setelah di surga.


Putri keduaku sayang, 
seperti namamu yang berarti batu permata fairuz cantik. Engkau tumbuh menjadi seorang anak yang membawa keceriaan dalam hidup ibu. Keceriaanmu bak batu permata yang berkilau cantik dihati ibu. Selalu ada lelucon dari tingkah polahmu. Sejak pandai bicara selalu ada canda tawa dari perkataanmu.


Batu permata cantik yang mengajarkan ibu tentang arti berbagi kasih sayang. Terlahir sebagai anak kedua yang sejak dalam kandunganpun harus berbagi kasih sayang, perhatian dan cinta.

Ketika lahir batu permata ibu sudah berbagi cinta dan kasih sayang dengan kakak pertama. Ketika adik bayi yang ketiga lahir, batu permata ibu harus berbagi lagi. Tak terhitung puluhan ucapan ibu memintamu menunggu setiap harinya. Menunggu  sang adik tidur, menunggu sang adik selesai mandi, menunggu sang adik selesai ganti popok, dan lain lain.

Ada saatnya ibu begitu bingung menghadapimu yang bertengkar dengan kakak pertama. Disaat yang bersamaan engkaupun mengajarkanku betapa pentingnya kerukunan antar saudara. 


Betapa Allah menciptakan setiap anak dengan pribadi dan watak yang berbeda. Kakak pertama yang rapi dan teratur. Kakak kedua yang kreatif dan aktif. Ketika ibu bisa menerima perbedaan kalian. Maka saat itu pula ibu belajar, mencoba untuk memahami dan memaklumi. Memaklumi kalau ada perbedaan diantara ibu dan anggota keluarga lain. Belajar memahami tanpa timbal balik ingin dipahami.


Perbedaan bukan untuk diperdebatkan. Tetapi dari perbedaan itulah kita saling melengkapi. Pelangi indah bukan karena warnanya yang sama, akan tetapi perbedaan warnanyalah yang membuat indah. 


Putri keduaku tersayang, terimakasih karena telah mau berbagi kasih sayang dengan kakak dan adik bayi. Terimakasih telah berusaha menghormati kakak dan menyayangi adik bayi. 

Ibu minta maaf adakalanya karena kesibukan merawat adik bayi, engkau kurang diperhatikan. Terkadang ibu membentakmu yang terus mencari perhatian ibu dengan menganggu kakak. Ibu yang bernada tinggi  mengomel tanpa henti karena kebiasaanmu yang tidak merawat mainan.


Sungguh ibu masih harus banyak belajar darimu ya nak, putri keduaku.


Putri ketigaku tersayang,Seorang ratu karunia dari Tuhanku. Engkaulah yang mengajarkan ibu arti percaya, perjuangan dan pasrah. 


Percaya tanpa henti bahwa Allah selalu menolong hambanya. Percaya bahwa dibalik setiap kesulitan selalu ada kemudahan dariNya. Karena itulah pekerjaan iman. Ibu berdoa setiap malam dan terus percaya bahwa Allah akan menjagamu. Ibu bisa melahirkanmu dengan normal. Allah akan menempatkan plasenta diatas sehingga engkau bisa lewat dijalan lahir.


Sebuah perjuangan seorang ibu yang melahirkan. Perjuangan pertama ibu melahirkan dengan operasi section caesar. Ketika efek bius itu hilang, ibu berjuang berdamai dengan rasa sakit yang berdatangan. Ibu berjuang memberimu air susu meski nyeri disekujur tubuh ibu baru saja dimulai. 


Bapaklah yang begitu setia merawat, menjaga dan menemani ibu. Meski lelah dan kantuk terlihat jelas diwajahnya. Ia tetap menggendongmu dan membantu mengganti popokmu. Ratusan alasan ibu untuk belinang air mata dan terpuruk kala itu. Tapi senyum ceria kakak-kakak dan perhatian bapaklah yang menjadi jutaan alasan ibu untuk berjuang. 


Pada akhirnya ketika ibu harus memilih operasi untuk menyelamatkanmu. Ibu belajar pasrah bahwa segalanya Allah lah yang berkehendak. Hidup dan mati itu Allah yang menentukan. Pasrah dan menerima terhadap takdir yang menurut Allah terbaik untuk ibu.


Putri ketigaku sayang, dari dirimu ibu belajar mencari hikmah dan menemukan makna yang terjadi dalam hidup ibu. Episode ketika mengandung, melahirkan hingga merawatmu sangatlah berat. Namun ibu percaya itulah cara Tuhan menempa ibu menjadi lebih baik dan tangguh.


Terimakasih putri ketigaku tersayang karena telah berjuang bersama ibu. Begitu kuatnya engkau nak, terlahir dengan selamat hingga sekarang. Menjadi anak ketiga yang penuh keceriaan. Saat ini usiamu baru lima bulan. Tapi dari matamu yang selalu berbinar ketika menatap mata ibu. Ibu tahu betapa engkau sangat mencintaiku. Betapa engkau sangat mengenal suara, bau dan wajah ibu. 


Putri ketiga tersayangku,
Maafkanlah ibu jika dimasa depan engkau  juga harus terbiasa berbagi kasih sayang dengan kakak-kakak.


Kakak-kakakmu sekarang sangat menyayangimu nak. Mereka selalu ceria mengajakmu bermain, membantu ibu menyiapkan pakaian dan perlengkapan mandimu. 


Mereka selalu sedih ketika melihatmu sakit, terus menangis atau ditinggal ibu sendiri. Meski terkadang mereka malah mengusik tidur lelapmu dengan tawa, teriakan dan tangisan.


Maafkanlah sayang, karena kakak-kakakmu pada dasarnya hanyalah anak-anak yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang ibunya.


Sekian dulu surat dari ibu untuk ketiga putriku tersayang. Doa terbaik untuk kalian bertiga ya nak. Semoga Allah menjadikan kalian para wanita sholihah.


Wassalamu’alaikum wr. wb.


Salam sayang,



Ibu yang terus belajar

💌💌💌

Gimana sobat blogger??
Semoga kalian menikmati ya surat yang mak’e tulis😊

Sebelum mak’e tutup,,Izinkan mak’e memberi sedikit kalimat penguat untuk kalian para perempuan.
Berbanggalah dan bersyukurlah terlahir sebagai perempuan. Dalam ajaran islam Allah sangat-sangat memuliakan kaum perempuan,,Kalian semua adalah calon RATUNYA PARA BIDADARI SURGA..
“Perempuan ketika LAHIR menjadi jalan kesurga bagi kedua orangtuanya.Perempuan ketika MENIKAH ia menyempurnakan separuh agama suaminya.Perempuan ketika menjadi IBU surga ditelapak kakinya.Perempuan ketika menjadi WANITA SHALIHAH ia adalah ratunya para bidadari surga”

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1aDjMRaf0hbl3zPV3TST_H8j4Yjhcj40K

Masya Allah begitu istimewanya kita para perempuan kan sobat blogger.
Kalimat-kalimat yang ada di dalam kitab suci Alquran itu insya allah sudah tertancap didalam hatiku.Agar mak’e selalu bersyukur diberi amanah tiga putri.Agar mak’e selalu bersyukur terlahir menjadi perempuan.Semoga rasa syukur ini menular ke sobat blogger yang membaca❤️
Sekian surat mak’e hari ini ya.Sampai jumpa lagi😘






















No comments for "Sebuah Surat untuk Masa Depan"