AKU DAN CERMINKU PART 2

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1h97ElvMk2yEhCIbvt2bAMmWwTUjc1k5s


Usai meratapi kesalahan terdahuluku. Aku melanjutkan lagi sesi konsultasi bersama ibu ghani.

“Lalu apa yang harus saya perbaiki ya ibu ghani? dimulai darimana dengan huriyah?”


“Mulailah bertanya kepada huriyah rencana-rencana hidupnya, misalnya yang seusia huriyah jadwal dari bangun tidur sampai tidur lagi biar huriyah yang atur. Kalau ada yang tidak sama dengan huriyah. Cobalah untuk berunding lagi sampai ketemu kesepakatan,” jawab ibu ghani.


“Oh.. iya, aturan antara umma dan abinya harus sama ya. Aturan yang sudah disepakati harus sama-sama dijalani,” ibu ghani menambahkan lagi.


“Kalau untuk seusia huriyah apapun targetnya bukan bisa tapi senang,” kembali pesan ibu ghani menggugah perasaanku.


Aku pahami pesan dari ibu ghani satu persatu. Aku coba simpan dalam ingatan. Setiap pesan harus mulai aku lakukan. Diriku sangat ingin ada perubahan.


“Ini ummanya kebanyakan menuntut ya ibu ghani? Kebanyakan aturan makanya huriyah menganggap ummanya tidak menyenangkan seperti abinya?” tanyaku pada ibu ghani penuh ingin tahu.


“Ya karena koleris ketemu koleris. Ibu ghani liat dari pertama huriyah ini anaknya koleris. Terlihat dari caranya meletakkan apapun teratur dan rapi,” Jawab ibu ghani.


Ah, aku ingat sekarang diriku terlalu berlebihan dalam mengatur huriyah. Padahal harusnya yang perlu diatur hanyalah sesuatu yang benar-benar ada aturannya. Jika aturan tersebut dilanggar maka akan membahayakan pelanggar. 


Contohnya, peraturan lalu lintas untuk keamanan para pengendara diharapkan mengenakan helm dan melengkapi surat-surat kendaraan. Ini sudah aturan, maka harus diterapkan. Jika tidak dilaksanakan bisa berbahaya untuk diri kita. Aturan lain bisa juga berupa norma dalam agama. 


“Kalau bisa ummanya jangan terlalu kaku ya, sering-sering jugalah bercanda dengan anak-anak disela menemani mereka bermain,” saran ibu ghani kembali menyadarkanku.


Selama ini memang abinya yang lebih banyak bercanda dengan anak-anak. Selain karena memang sifatnya yang usil, pandai mengundang tawa juga santai. Sedangkan aku terlalu fokus dengan target menyelesaikan pekerjaan rumah. Padahal pekerjaan rumah tak pernah habisnya. Selalu ada saja yang harus dikerjakan.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


“Paket..paket..paket..”

Suara mamang kurir pengantar paket, sejenak memutus obrolanku dengan ibu ghani di whats app.


Kubuka pintu untuk menerima paketnya. Lalu tandatangan tanda paketan sudah diterima sambil berucap “terimakasih mang”.


“Sama-sama,” jawab mamang kurir sambil tersenyum dan berbalik menuju tempat motornya diparkir.


Kuletakkan paket yang barusan saja kuterima dimeja ruang tamu. Aku lihat tulisannya kiriman dari dini teman semasa kuliahku.


“Wah, buku sains islam yang ku pesan sudah datang. Alhamdulilah,” sambil tersenyum membuka paketan yang masih dibungkus kertas coklat. 


Aku buka beberapa halamannya dan kubaca sekilas. Sengaja aku memesan buku sains islam ini. Karena kak huriyah sangat sering bertanya tentang fenomena alam. Kubelikan juga sebagai hadiah untuknya karena sudah hafal asmaul husna. 


Kuletakkan kembali buku sains islam dimeja ruang tamu. Lalu aku duduk kembali dikursi kayu jati panjang berdesain klasik. Aku kembali fokus pada handphoneku. Sembari mengabarkan dini temanku bahwa paketannya sudah sampai. Aku kembali mengirim pesan ke ibu ghani.


“Aku koleris sama kayak huriyah. Aku suka sebel ibu ghani karena huriyah seringnya nggak dengerin dan membantah perkataanku. Padahal kalau kata suami aku sama saja kayak huriyah. 

Cuma sekarang sedang berusaha posisikan diri sebagai huriyah. Kalau huriyah maunya begini ya aku juga coba. Tapi tetap saja kadang tersulut emosi balik lagi bertengkar dan kesal,” pesanku mengakui perasaanku selama ini kepada ibu ghani.


“Seperti berkaca ya sebenarnya. Memang koleris itu tipe yang membuat gemas, balasan ibu ghani


Deg..

“Seperti berkaca?” ucapku dalam hati mengulangi perkataan ibu ghani.

Ah iya, huriyah jadi cerminku. Aku terhenyak menyadari sesuatu

“Masya allah inikah caraNya memperbaiki diriku? melalui amanahku yang sifatnya cerminan dari diriku. Aku yang sifatnya sama seperti bapakku. Lalu Tuhan kembali menghadirkan situasi yang sama yaitu aku dan huriyah.”


Kembali pesan ibu ghani berdatangan, “Perlu diingat setiap watak itu tidak ada yang lebih baik atau buruk ya tante dewi. Semua watak itu baik karena asalnya dari Tuhan. Hanya saja, tiap watak pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya.”


“Dengan kita tahu watak seseorang, kita jadi lebih mudah untuk memahami dan memaklumi kekurangan mereka. Lebih mudah harus bagaimana bersikap menghadapi setiap tipe watak.”


“Tipe koleris kelebihannya adalah calon pemimpin dimasa depan. Syukuri bahwa dirumah kita ada calon pemimpin di masa depan. Kekurangan tipe koleris ada pada empati. Maka ajarkanlah mereka tentang empati.”


Hmmh, pantaslah huriyah tidak sadar dengan perasaan syakilla. Dia tak bisa menyadari sikap syakilla yang hanya diam memperhatikan melihatnya bermain. Sikap diamnya itu sebenarnya ingin diajak pula bermain. Karena memang empati huriyah yang kurang.


Tugas besar untukku membentuk huriyah yang berempati. Meski mungkin merubahnya tidak bisa yang jadi penuh empati. Karena memang watak itu anugrah dari Tuhan. 


Kutanyakan kembali kepada ibu ghani maksud dari empati, “Bagaimana bentuk empatinya ya ibu ghani? apakah harus lebih banyak sayang dan perhatian ke huriyah?”


“Tante dewi harus lebih memahami perasaan huriyah. Apakah huriyah sedang sedih, marah, kecewa, takut, malu, suka, tidak suka, dan lain-lainnya. Kalau perhatian insya allah tante dewi sudah sangat perhatian dengan huriyah,” balas ibu ghani.


Dari sini aku sedikit mengerti dan mulai sadar. Selama ini terkadang aku tahu huriyah sedang sedih. Tahu juga ketika ia sedang merasa marah dan tak suka. Tapi entah kenapa sikapku tak sejalan. Aku terlalu gengsi untuk memeluknya ketika sedih dan merendah ketika ia marah. 


Bahkan aku malah berkata “Ngapain sih kak huriyah, gitu saja malah nangis. Sudahlah biarin saja kalau temennya bilangin kakak jelek dan hitam.”


Ketika ia marah padaku malah aku berkata “Kakak ngapain marah-marah sama umma? ummanya kan hanya mengingatkan! begitu saja kok marah?”


Astaghfirullah begitu banyak kesalahanku. Kemana empatiku untuk anakku sendiri selama ini. Tak terasa air mataku ikut tumpah menyadari semua kesalahanku selama ini.


Aku ketik kembali balasan untuk ibu ghani “Baiklah ibu ghani terimakasih atas semua sarannya.”


Balasan ibu ghani menutup sesi konsultasi diantara kami “Sama-sama. Maaf lahir batin ya, kalau ada kata-kata ibu yang kurang berkenan.”


Alhamdulilah, sungguh aku bersyukur dipertemukan dengan ibu ghani. Ibu ghani ini orangnya lemah lembut dan ramah. Sangat menyenangkan diajak berdiskusi. Sungguh pas dengan bidang pekerjaan yang digeluti.


Aku percaya di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semua pertemuan dan yang terjadi dalam hidup kita pastilah ada tujuannya. Tinggal kitalah yang harus mencari hikmah dan mau tidak untuk berubah lebih baik.


Begitulah, aku memaknai kejadian antara syakilla dan huriyah. Justru dari kejadian itu aku malah menemukan harta karun. Harta karun yang merubah hidupku dan cerminku, bahkan dengan bapakku.


Aku peluk huriyah yang masih tidur siang. Aku usap rambutnya sambil ku doakan kebaikan untuknya. Hal pertama yang akan kulakukan ketika ia bangun adalah meminta maaf kepadanya. Meminta maaf akan kesalahanku selama ini kepadanya. 

Lalu memberikan hadiah untuk usahanya menghafal asmaul husna berupa buku sains islam.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Enam bulan kemudian kuterima sebuah pesan tak terduga dari tante vidya


“Assalamualaikum mbak dewi, tiba-tiba kepikiran maafkan aku ya mbak kalau banyak salahnya. Maafkan aku kalau banyak kurangnya. Masalah anak-anak jangan sampai jadi ganjalan ya mbak. Aku minta maaf sekali lagi.”


Aku terkejut dengan pesan tante vidya. Alhamdulilah hubungan syakilla dan kak huriyah sudah membaik. Mereka sudah berteman seperti biasa. Aku dan tante vidya pun demikian.


“Sama-sama tante vidya, aku juga minta maaf ya. Kok tiba-tiba? ada apa tante? semoga anak-anak juga baik ya?“ isi balasanku pada pesan tante vidya.


“Nggak ada apa-apa kok mbak dewi. Alhamdulilah anak-anak baik.”


-END-














No comments for "AKU DAN CERMINKU PART 2 "