ARKA DEWI -Aku dan Cerminku Part 1-


“Meski huriyah lebih banyak waktu dengan umma, tapi umma kurang masuk kebawah sadarnya,” isi pesan Whats App dari psikolog beberapa menit lalu membuatku terperanjat.


Aku langsung gemetar, jantungku bedegup kencang. Hasil tes ini mengguncang diriku, serentak membuatku berpikir “Lalu apa gunanya selama ini aku dirumah?”.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Malam itu sinar rembulan dan cahaya kerlap-kerlip bintang mengiringi perjalanan kami menuju rumah. Lampu-lampu rumah yang  kami lewati pun ikut membantu penerangan jalan. Sesekali canda tawa si sulung huriyah, adiknya calista dan abinya memecah keheningan.


Sesampainya dirumah, seperti biasa anak-anak langsung bersiap untuk tidur.

“Kakak ayo pipis dan sikat gigi,” ucapku pada huriyah.


“Iya umma,” jawab huriyah.

Setelah huriyah selesai, giliran anak keduaku calista yang aku bantu dikamar mandi.


“Kelinci liar dianugerahi Allah kelebihan berupa kaki dan telinga yang lebih panjang. Gunanya untuk mengetahui kedatangan musuh dan bisa berlari lebih cepat saat dikejar musuh,” ucapku membacakan buku cerita kelinci kepada anak-anak.


“Nah sekarang  kakak huriyah dan adik calista bobo ya, jangan lupa sebelum tidur baca doa ya,” sambil kukecup kening mereka satu per satu.


Beberapa menit kemudian anak-anak sudah terlelap. Sejenak aku rebahkan tubuhku pula di tempat tidur. 

 Ahh..lelahnya,” ucapku dalam hati.


Sungguh melelahkan setiap harinya mengurus dua anak dengan diriku yang dalam keadaan mengandung. Semakin bertambah usia kandunganku semakin bertambah pula rasa lelah dan payah menimpaku. Apalagi musim kemarau yang sudah berlangsung beberapa bulan. Cuaca terasa panas baik siang ataupun malam membuatku tak bisa tidur nyenyak karena kegerahan. 


“Ahh.., andaikan ada AC ya, insya allah aku bisa tidur nyenyak.

Sampai kehamilan ketiga pun aku harus mengalami lagi kegerahan,” keluhku dalam hati.


Tapi hal ini tak sampai hati aku ungkapkan pada suamiku, zanjabil. Aku tahu sebagai seorang suami pastilah membahagiakan, menyenangkan dan memenuhi permintaan keluarga adalah tujuannya. Kalaupun ia belum bisa memenuhi keinginanku itu karena memang allah belum mengizinkan.


“Aku hanya perlu bersabar sampai allah memberi rezeki buat kami membeli AC. Dan lebih banyak bersyukur untuk segalanya yang sudah kumiliki, bukan malah sibuk dengan yang tidak dimiliki,” ucapku dalam hati.


“Cring..”

“Cring..”

“Cring..”

Bunyi pesan whats app di handphone membuyarkan lamunanku. 

“Siapa yang chat ditengah malam begini?” pikirku.


Segera kubuka pesan yang masuk di handphoneku.

“Assalamualaikum, maaf ya mbak dewi kalau ganggu. Aku mau tanya syakila pernah salah apa ya ke kakak huriyah? Kok beberapa kali syakila pengen main sama kakak huriyah malah nggak dibolehin ikut main? 

Bahkan pernah sampai nangis-nangis waktu tidur ngigau nyebut-nyebut nama mbak huriyah. Dek syakila minta maaf ya mbak huriyah kalau ada salah.”


Aku terkejut membaca pesan yang dikirim oleh salah satu teman di majlis taklim. Tante vidya, begitu biasanya ia dipanggil anak-anakku. Kami cukup akrab dengan tante vidya. Sewaktu kakak huriyah belum punya adik, kami sempat beberapa kali ke rumah tante vidya. Saat kunjungan, kakak huriyah terlihat sangat senang dan  menikmati bermain dengan syakilla.


“Waalaikumussalam tante vidya, insya allah syakilla nggak pernah salah apa-apa ya ke kakak huriyah. Insya allah nanti aku tanyakan ke kakah huriyah ya. Tapi biasanya kak huriyah nggak bakal marah kalau tidak ada sebabnya,” balasku pada tante vidya.


“Syakilla yang mulai duluan gimana? setiap kejadian selalu tak tanyain. Syakilla ngapain?ngerebutin mainan kak huriyah? Jawabnya sih nggak ya, cuma pengen ikut main tapi dibilang jangan disini, awas.”

Kembali pesanku dibalas tante vidya.


“Baiklah, jazakillahu khairan atas konfirmasinya ya te vidya. Insya allah besok saya tanyakan ke anaknya,” begitu balasan terakhirku.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Keesokan paginya, kakak huriyah sedang asyik bermain dengan adek calista. Mereka sedang asyik bermain peran. Kak huriyah jadi penjual  es krim dan adik calista jadi pembelinya. Aku pun turut diajak dalam permainan mereka.


“Umma ayo ikutan main sih,” rengek kakak huriyah padaku.

“Baiklah, umma ikutan. Beli.. beli..,” ucapku yang sedang berperan jadi pembeli lain.

“Mau beli apa ya?” ujar kakak huriyah

“Mau beli es krim vanila satu sama es krim vanila topping coklat bertabur meises warna-warni dua,” ucapku sambil tersenyum menikmati permainan peran.

“Nah ini pesenannya ya bu,” ucap kakak huriyah sambil memberikan es krim buatan dari flanel.

“Wahhh...terimakasih ya mbak, totalnya berapa?” ucapku sembari menerima es krimnya.

“Lima belas ribu ya bu,” ucap kakak huriyah.

“Ini ya, terimakasih,” ucapku sambil memberikan tiruan uang kertas pada kakak huriyah.

“Sama-sama,” jawab kakak huriyah.


Beberapa jam kemudian kami bertiga benar-benar asyik menikmati makan es krim sungguhan. Es krim vanila berlapis coklat dengan topping remahan oreo sangatlah menyejukkan di siang terik ini. Apalagi menikmati es krimnya sambil duduk dibawah pohon rindang. 

Masya allah, nikmat tuhan mana lagi yang engkau dustakan?” Syukurku dalam hati.


“Wah es krimnya enak ya kakak huriyah?”

“Iya.. enak banget umma jazakillahu khairan” ucap kakak huriyah sambil tersenyum.

“Umma, jaja tila hoilo,” ucap calista dengan mulut yang belepotan es krim. 


Bicaranya yang masih belum lancar ditambah mulut yang belepotan membuat aku dan kak huriyah tergelitik. Kami tertawa melihat tingkah polah calista yang berusia hampir tiga tahun.


“Nah begini ya, kalo main yang rukun ya. Alhamdulilah, hafalan suratnya yang semangat ya. Kalau hafal nanti insya allah umma belikan es krim lagi ya,” ucapku.

“Iya umma..”, jawab kedua anakku serentak.


Lalu kumulailah pertanyaan tentang pesan semalam pada kakak huriyah.

“Ehm kakak huriyah, semalem umma dapet pesan dari tante vidya. Tante vidya cerita, dek syakilla semalem sedih banget. Katanya sih karena kakak huriyah nggak ngebolehin syakilla main. Bener gitu kakak huriyah?”


Lalu kakak huriyah menjawab “Iya, semalem kak huriyah lagi main sama sinta dan dimas. Kami lagi main dokter-dokteran dimeja panjang. 

Pura-puranya meja panjang itu tempat tidurnya ya umma, buat periksa. Tadinya syakilla duduk dilantai ngelihatin kami. Eh tahu-tahu dek syakilla malah duduk dimeja panjang itu. Kan kita mau main jadi nggak bisa, tak suruh minggirlah. Tapi dianya nggak minggir-minggir.

Ya udah kakak huriyah diemin aja. Eh tau-tau dianya narikin jilbab kakak. Ya kakak bilang nggak mau ditarikin. Eh dianya malah nangis.”


“Oh gitu.. ehm ya wajarlah ya kakak nggak suka ditarikin. Tapi coba deh kakak huriyah inget-inget, kira-kira kenapa ya dek syakilla ngeliatin kakak dan temen-temen main?” tanyaku menyelidik.


Huriyah menggeleng tanda tidak mengerti alasannya.


“Mungkin nggak dek syakilla pengen ikut main?” tanyaku lagi.


Huriyah mengangguk “iya umma,”


“Trus kenapa nggak diajak main kak?” aku kembali bertanya.


“Lah dianya diem aja, ya nggak ngertilah kakak kalo dia pengen main. Lagi juga yang main udah pas kami bertiga. Kalau kebanyakan yang ikut main kakak capek jagainnya”. jawab huriyah


“Ehm...kak huriyah inget nggak sih? waktu kak huriyah masih kecil? pernah kak huriyah ngelihatin kakak-kakak yang lebih tua main. Trus kakak-kakaknya deketin kak huriyah dan ngajak main. Padahal waktu itu kak huriyah cuma diam saja,” aku kembali bertanya sambil mengelap mulut calista yang belepotan es krim dengan tissue.


“Iya inget umma,” jawab kak huriyah sambil memakan potongan terakhir cone es krim.


“Gimana perasaan kak huriyah? senang nggak?” tanyaku.


“Senang umma,” jawabnya.


“Nah, dek syakilla juga begitu kak. Dek syakilla itu masih kecil belum bisa mengungkapkan dengan baik seperti kakak. Kalau dia itu ingin ikut main. Bicara saja syakilla belum jelas banget kan?”

tanyaku.


“Iya umma.. ngomongnya nggak jelas kadang. Kakak huriyah nggak ngerti dia ngomong apa!” jawab huriyah membenarkan.


“Jadi lain kali, kalau ada anak yang lebih kecil dari kak huriyah ngelihatin trus kemungkinan dia ingin ikut main. Coba saja kakak tawarin mau ikut main nggak? Kalau mau ya diajak, kalau nggak ya sudah.”


“Iya umma..” jawab kakak huriyah.


“Yuk sekalian pulang kita mampir kerumah adik syakilla buat minta maaf ya? Nanti kapan-kapan insya allah kalau umma longgar, umma temenin main kerumah dek syakilla.”

Ucapku pada kak huriyah sambil mulai berjalan.


“Siap umma..” jawab kak huriyah sambil menggandeng tanganku.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Malam itu huriyah mendekatiku yang sedang menghirup udara segar sejenak diteras masjid. Menggerakkan sedikit tubuhku yang kaku karena terlalu lama duduk tanpa sandaran di dalam

Masjid.


“Umma..umma..,” panggil huriyah dengan raut wajah yang sedih.


“Kenapa kakak?” tanyaku.


“Umma, kakak sedih. Tadi kakak lagi deketin dek syakilla yang main. Eh malah bilangnya sama ibunya dia nggak boleh main bareng kak huriyah,” sambil menahan tangis.


“Ah sayang..iya sudah nggak apa-apa. Sementara kalau belum boleh nggak usah main dulu ya sama dek syakilla,” saranku membesarkan hatinya.


“Kenapa ya umma? Kok tante vidya nggak bolehin main dek syakilla sama kakak?” tanyanya lagi yang kini sudah berlinang air mata.


“Ya..mungkin tante vidya masih takut kalau dek syakilla dibikin nangis lagi sama kakak huriyah.. sabar ya sayang. Main sama yang lain dulu,” jawabku sekenanya berusaha menghibur hati huriyah. Sambil kupeluk lebih dalam huriyah yang menangis tersedu-sedu. Aku sendiripun rasanya sudah tak sanggup menahan bendungan air di sudut mataku.


Meski sudah sebulan berlalu tapi hubungan syakilla dan huriyah belum membaik. Pihak syakilla lebih memilih untuk menjauhkan dari huriyah. Akupun sudah meminta maaf kepada vidya. Kak huriyah pun sudah minta maaf langsung dengan syakilla.


Memang pernah aku melihat dan mendengar sendiri syakilla mengatakan hal yang sama kepada huriyah. Dan sebagai seorang ibu akupun turut sedih menyaksikan kesedihan anakku.


Namun berkali-kali kuyakinkan diriku dengan prasangka baik. Juga mencoba memahami dan mengambil hikmah dari kejadian ini. 


“Oh, begini rasanya ketika anakku dibuat sedih. Anakku tidak ditemani. Jadi begini yang dirasakan tante vidya. Makanya ia masih belum siap mengizinkan syakilla bermain lagi dengan huriyah,” pikirku dalam hati.


Tapi malam ini air mataku tetap saja tumpah. Saat anak-anak terlelap dalam tidurnya air mata yang sejak huriyah bercerita tumpah semua. Aku menangis melepaskannya. 


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Kejadian huriyah dan syakilla membuatku memutuskan hal yang besar. Aku berkonsultasi dengan seorang psikologi. Ibu ghani dengan senang hati menerima konsultasi dariku.


Bukan hanya aku saja yang konsultasi. Kami sekeluarga memutuskan untuk berkonsultasi dengan ibu ghani. Tujuannya untuk mengetahui jika ada yang salah dalam pola asuh kami selama ini terhadap huriyah.


Masing-masing dari kami diminta ibu untuk menggambar di secarik kertas putih polos berukuran A4 dengan pensil 2B. Kami diperintahkan menggambar pohon, rumah dan orang oleh ibu ghani. Menurut ilmu psikologi hasilnya akan memberikan gambaran tentang pola asuh yang terjadi selama ini terhadap seseorang.


Karena kesibukan ibu ghani, hasil gambar kami tidak bisa dibahas secara tatap muka. Akhirnya kami memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk berdiskusi tentang hasil gambar melalui Whats App.


“Meski huriyah lebih banyak waktu dengan umma, tapi umma kurang masuk kebawah sadarnya,” isi pesan Whats App dari psikolog beberapa menit lalu membuatku terperanjat.


Aku langsung gemetar, jantungku bedegup kencang. Hasil tes ini mengguncang diriku, serentak membuatku berpikir “Lalu apa gunanya selama ini aku dirumah?”.


Aku kuatkan hatiku untuk tetap membaca sampai tuntas. Bertahan melanjutkan konsultasi online dengan ibu ghani. 


“Huriyah lebih banyak mendengarkan karena itu ia cenderung mengolah sendiri informasi yang diterima”

“Buatlah huriyah percaya dengan orangtuanya. Saat menemukan dan mengalami hal apapun orangtuanyalah tempat pertama ditanya.”


Lemas aku seketika, teringat kesalahan-kesalahanku selama ini padanya. Pertengkaran yang sering terjadi antara aku dan huriyah. Semua terjadi karena aku yang tak paham. Aku tak paham bahwa kami punya watak yang sama.


“Tante arkadewi itu menurut saya itu koleris. Koleris kombinasi sanguin sama kayak bapaknya mbak dewi” isi pesan ibu ghani makin menyentakku.


Cring...

kembali masuk pesan dari ibu ghani

“Jadi sifat dasar atau watak itu yang dibawa dari lahir koleris, sifat kombinasi dari pengalaman hidup, pola asuh, dari lingkungan hidup dan sebagainya”.


“Pantaslah saya dibilang mirip huriyah sama suami. Ternyata watak kami sama yaitu koleris,” balasku pada ibu ghani.


“Betul sekali. Watak koleris disebut juga leader. Jika diumpamakan dalam pertunjukkan adalah seorang sutradara. Positifnya sifat leader itu mereka diberi anugrah sejak lahir pandai memimpin. Karena ia pemimpin, maka ia lebih senang mengatur dirinya sendiri dan orang lain tentunya.”


Sekelebat masa lalu kembali hadir dalam ingatanku. Saat itu kakak huriyah semakin besar. Aku merasa ia semakin susah sekali untuk diatur. Kami semakin sering bertengkar.


Saat itu ia akan berangkat TPA di masjid terdekat. Usianya sekitar tiga tahun dan bicaranya masih cadel. Dengan senang hati sudah kupilihkan baju bermotif rumah berwarna biru muda lengkap dengan setelan rompi hijau tua dan jilbab senada.


“Kakak huriyah itu bajunya di meja setrika. Pakai yang itu ya sudah umma setrika. Rapi dan wangi loh”, ucapku sambil memakai bedak dan lipstik bersiap mengantar kak huriyah TPA.


Sambil membawa baju merah batik kombinasi tile senada huriyah berkata : “Ih...umma. Huliyah nggak mau pake baju yang itu. Maunya pake baju yang melah ini saja.”


Sambil mengenakan gamis biru aku mendekati huriyah : “kak huriyah bagusan baju yang umma siapin tadilah. Itu kan lebih bagus buat kondangan saja”.


“Ih nggak mau umma, aku maunya yang melah,” huriyah tetap menolak.


“Ya sudahlah kalau nggak mau, terserah kamu saja lah situ mau pakai baju apa! umma sudah nggak mau lagi ngurusin bajumu,” ucapku dengan nada tinggi dan menahan emosi.


“Umma.. ya sudah, huliyah pakai baju yang biru saja,” jawabnya dengan nada yang sama kesalnya.


Begitulah, hal sepele bisa menjadi masalah besar untukku dan huriyah. Terkadang huriyah menurut dengan terpaksa. Seringnya ia membantah dan berani balik memarahiku. 


“Anak dengan tipe koleris sangat berani speak dengan siapapun. Bahkan untuk ketahanan, sang koleris ini kuat terhadap bully an. Tentu saja, karena ia berani melawan siapapun”, jelas ibu ghani.


Aku membenarkan penjelasan ibu ghani. Aku sendiri termasuk tipe koleris yang berani mengungkapkan. 

“Aku nggak suka dengan bicaramu yang terus menyakiti.”


Bahkan dengan orangtua sekalipun aku berani untuk menolak dan mengungkapkan ketidaksukaan aku pada sesuatu.

“Bapak aku capek kalau aku harus les tambahan setelah pulang sekolah. Padahal di sekolah saja aku sudah dapat pelajaran tambahan.”


Sayangnya, ucapanku sering sekali membuat orang-orang disekitarku merasa tersakiti.

“Baik memang mengungkapkan sesuatu dan berbicara apa adanya. Tapi perlu diperhatikan bahasa dalam berbicara. Bicaralah dengan nada dan pilihan kata sehalus mungkin. Agar yang mendengar tidak merasa tersakiti dan disalahkan. Kalau katanya orang jawa papan empan adepan, pait madu”, nasehat suamiku kembali terngiang di telingaku.


“Ya benar sih kalau tidak diungkapkan memang bisa jadi penyakit buat diri sendiri. Tetapi kalau di ungkapkan malah bikin sakit hati orang lain!” ucapan saudara perempuanku ikut merasuk dalam pikiranku.


Ternyata sekacau itu ucapanku. Ungkapan yang aku kira menjadi hal baik untuk diriku dan orang sekitar. Berbalik membuat banyak orang yang tersakiti karena ucapanku.


-Bersambung-










 












No comments for "ARKA DEWI -Aku dan Cerminku Part 1- "