MEMBASUH LUKA MASA LALU PART 1


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1aeBlM0H_9MZCYMQ22jTex1pj-w3HQsPC


Ayo  bentuk lingkaran, kita mulai sungkemnya ya! dimulai dari saya kakak tertua,” ujar ayahku memberi komando supaya acara sungkem ini bisa berjalan lancar.”


Beberapa menit kemudian tiba giliranku sungkem dengan kedua orangtuaku. Tentunya dengan ayahku terlebih dahulu. Semakin mendekati ayah rasa penyesalan, kerinduan dan bahagia memenuhi hatiku. Mataku mulai memerah memandang wajah ayah yang telah berkeriput. Rambutnya pun kini sudah memutih semua. Ayah sudah semakin menua.


Aku pegang tangannya, tangan yang tak pernah putus memanjatkan doa kebaikan untuk diriku. Tangan yang dulu menggendongku berkeliling melihat berbagai macam hewan di kebun binatang.


Mulailah aku menyungkem ayahku sambil berkata : “Ayah selamat idul fitri. Maafkan segala kesalahanku selama ini ayah. Maafkan segala ucapan dan perbuatanku yang menyakitimu. Aku mohon ridamu ayah.” Di akhir ucapanku tak terasa air mata sudah membasahi pipi dan tangan ayahku.


Sayup-sayup terdengar suara erangan ayah sambil berkata : “iya nduk, ayah rida memafkan segala kesalahanmu. Ayah juga minta maaf atas kesalahan ayah selama ini.”


Lalu ia memeluk tubuhku dan membelai kepalaku yang ditutup hijab berwarna salem. Kamipun bertangis-tangisan dalam pelukan.


Meski dalam waktu singkat, pelukan ayah hari itu terasa sangat hangat. Pelukan yang tak akan pernah aku lupakan. Mungkin pelukan inilah yang sejak dulu selalu diinginkan diriku yang lain. Diriku yang kala itu hatinya terluka.


🌸🌸🌸


“Sugeng riyadi nggih mbah.. sedoyo kelepatan kulo nyuwun ngapunten,” begitulah bahasa kromo dalam bahasa jawa yang paling sederhana dan kuingat ketika sungkem.


“Nggih..nggih..” jawab sesepuh yang disalami. Terkadang ditambahkan lagi nasehat-nasehat jawa dengan bahasa yang sama sekali aku tak mengerti.


Terkadang kutanyakan pada suamiku, “Mas, mbah tadi bicara apa ya? Translate please!”.


Suamiku kadang tersenyum atau tertawa kecil karena istrinya yang tidak mengerti bahasa jawa. Seringnya ia bakal dengan sabar menjelaskan artinya kepadaku.


Begitulah biasanya suasana yang aku lewati saat merayakan idul fitri di pulau jawa. Kami merayakan idul fitri bersama ibu mertua, ayah mertua, saudara-saudara dan keponakan dari suamiku. Seperti biasanya, silaturahim pun dilakukan ke beberapa saudara ayah dan ibu mertuaku. 


Namun idul fitri tahun ini berbeda dari biasanya. Tahun ini aku merayakan idul fitri bersama keluarga besar dari ayahku. 

Rasanya idul fitri tahun inilah yang paling spesial dalam hidupku. Bisa merayakan idul fitri di pulau jawa dengan keluarga besar yang merantau di sumatra. 


“Entah kapan kejadian bisa berkumpul seperti ini akan terulang lagi?”

Ujar ayahku meyakinkan saudara-saudaranya.


🌸🌸🌸


Pagi itu suasana sungguh ramai. Keluarga besar sedang berkumpul. Mulai dari mbah buyut sampai cicit memenuhi ruang depan sebuah rumah sederhana. Sebuah rumah yang pagarnya masih berupa potongan baja ringan dan kayu. Masih tercium bau cat baru dari dindingnya. Beberapa tikar digelar sebagai alas tempat duduk.


Beberapa anak kecil asyik menghitung uang THR yang diterimanya. Lainnya sibuk memandangi barisan kaleng dan toples. 


“Umma, adek mau makan kue yang itu”, rengek calista menunjuk toples berisi goodtime.


Lain lagi dengan kakak huriyah “umma, kakak ingin makan nastar buah-buahan yang disitu.”


Keponakan-keponakanku yang lain pun tak kalah serunya ingin pula segera makan permen jelly berwarna warni yang ada di toples.


Aku sendiri sangat berselera melihat  ketupat, opor ayam, rendang dan kemplang yang sudah tertata rapi di meja makan dapur.


“Masya allah, lezatnya semua makanan itu,” ucapku dalam hati hanya bisa memandang makanan dari jauh. Masih harus bersabar menahan nafsu makan sampai acara sungkem selesai. 


“Sabar ya dek, sebentar lagi kamu bakal makan opor dan ketupatnya ya,” ucapku lirih sambil mengelus perutku yang sudah memasuki usia kehamilan empat bulan.


Selesai sungkem, sesi acara halalbihalal dilanjutkan dengan foto keluarga. Rona ceria menghiasai wajah-wajah kami di tiap sesi pemotretan.


“Ayo, buyut-buyutnya yang masih pada kecil-kecil foto. Ada sepuluh kan ini, foto dulu,” kata ayahku bersemangat.


“Loh kok cuma sembilan? kurang siapa ini?”tanya ayahku setelah menghitung jumlah anak-anak yang sudah berpose dengan gayanya masing-masing.


“Kurang adek calista ayah, adek calistanya sudah tidur. Sudah tidak tahan karena tadi bangun pagi buat persiapan salat idul fitri.”jawabku sambil pelan-pelan memindahkan calista dari pangkuanku ke tikar agar tak terbangun.”


“Wah sayang sekali,” sesal ayahku karena jadi tidak lengkap.


“Ya sudah tidak apa-apa. Lanjut foto ya,. 1..2..3.. senyum” aba-aba ayahku.


Hanya kakak huriyah dan sepupu-sepupunya yang ikut foto. Aku tersenyum melihat pose anak-anak yang masih lucu dan polos. Doa terbaik untuk kalian, para generus kami dimasa mendatang.


🌸🌸🌸


Sesi halalbihalal pun berlajut dengan sepatah dua patah nasihat, motivasi serta diakhiri dengan doa.


Sebagai anak tertua ayahku memulailah nasehatnya. Isi nasihatnya sama dengan nasihat yang beliau sampaikan kepadaku dan suami beberapa hari yang lalu.


“Assalamualaikum, para sedulurku, anakku, keponakan dan cucuku. Alhamdulilah hari ini kita bisa berkumpul dirumah ini. Rumah sederhana tempat kita berasal. Disinilah awal mula trah handoko dimulai.” Ucap ayahku memulai nasihatnya. Baru awal cerita matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Berikutnya ayahku menceritakan kisahnya dimasa kecil yang hidup dalam kesulitan, “Saya, gaharu anak tertua dari almarhum bapak handoko. Ketika masih kecil saya susah sekali melihat ibu setiap jam tiga pagi harus menggoreng peyek. Tidak hanya sampai disitu, selesai menggoreng peyek kami lima anak yang sudah besar-besar gantian keliling dengan sepeda menjual peyek.”


Ayahku melanjutkan ceritanya sambil mengusap-usap matanya dengan jarinya. “saat itu saya merasa sedih, saya tidak ingin kehidupan yang susah terus menerus seperti ini. Akhirnya saya berkeyakinan harus belajar dengan giat supaya saya bisa memperbaiki kehidupan orangtua dan adik-adik saya. Sampai saya harus pergi jauh merantau ke sumatra, bekerja, berkeluarga disana hingga sekarang saya bisa berkumpul bersama kalian di rumah ini kembali.”


Suara ayah semakin serak, beliau semakin terisak menceritakan kembali hidupnya. “Alhamdulilah sekarang saya disini bersama adik-adik saya dalam keadaan yang lebih baik. Tuhan beri kita kehidupan yang lebih layak. Tuhan beri kita rezeki yang berlebih.”


“Semoga masa lalu saya dan adik-adik saya ini, bisa menjadi motivasi untuk para generasi kami berikutnya. Semangatlah, berjuanglah dan kerja keras.” ucap ayah menutup nasihatnya.


Selama mendengarkan nasihat  ayah, aku merasa ada yang kurang. Ada hal penting yang tidak ayah sebutkan. Namun akhirnya kekurangan itu disempurnakan oleh adiknya ayah, paklik surya.


Sebelum berdoa paklik surya menambahkan “saya hanya ingin mengingatkan kembali. Memang benar ya, kita sudah berusaha keras menuju kesuksesan di dunia. Tapi jangan lupa dengan kesuksesan kita di akhirat. Ingatlah tujuan kita diciptakan olehNya untuk beribadah. Maka jangan lupa gunakanlah rezeki dan harta yang kita punya untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Rezeki yang kita dapat untuk memperlancar ibadah kepadaNya”.


Nasihat dari paklik dan ayah menambah suasana haru kami. Hari itu tidak terlupakan. Kami melewatinya dengan bersenda gurau dan memakan hidangan yang sudah disediakan bersama. 


🌸🌸🌸


“Alhamdulilah lima hari lagi menuju idul fitri,” ucapku seraya mengelus rambut adek calista yang sedang tertidur pulas.


Kudengar suara ayah dan ibuku membaca alquran dari kamar yang letaknya bersebrangan dengan kamar yang kami tempati.


“Mungkin waktunya yang tepat sekarang untuk bicara dengan kedua orangtuaku,” ucapku dalam hati. 


Setelah kupastikan anak-anak tertidur, kutitipkan anak-anak dengan suamiku. “Mas, jagain adik calista dulu ya. Aku mau bicara dengan ayah dan ibuku.”


“Baiklah” jawab suamiku.


Kemudian aku mantap menuju kamar ayahku. Dengan jantung yang berdegup kencang. Aku teringat pesan suamiku beberapa menit lalu “Sayang harus siapkan hati ya?”


“Siapkan hati bagaimana mas?” tanyaku tak mengerti.


“Bersiaplah jika respon yang sayang terima tidak sesuai dengan yang diinginkan. Apalagi jika ayah dan ibu tidak menerima masukan dari sayang,” ucap suamiku penuh kelembutan dan perhatian.


“Baiklah, jazakallohu khairan atas masukannya mas,” ucapku.


-Bersambung-


#Hari ke4

#TantanganMenulis15Hari


















No comments for "MEMBASUH LUKA MASA LALU PART 1"