MEMBASUH LUKA MASA LALU PART 2


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1HiR1euStKBofj2-D_dMEey6CNi9HlksM


Sesampai dikamar orangtuaku, aku duduk bersandar di dinding berhadapan dengan keduanya. Ibu dan ayahku masih membaca Alquran. Aku tarik nafas panjang. Memberanikan diriku untuk mulai berbicara.


Mungkin terlihat sangat lucu, berbicara dengan orangtua saja harus penuh persiapan layaknya mau perang. Tapi itulah yang terjadi, aku sedang berperang melawan diriku selama ini yang takut untuk mengungkapkan perasaan. Diriku yang malas untuk menyampaikan pendapat karena ujungnya selalu ditolak.


Namun kali ini aku sudah sangat mantap untuk speak pada kedua orangtuaku. 

“Ayah ada yang ingin aku bicarakan,” ucapku sambil memandang ayahku.


“Baiklah, tunggu sebentar ya. Biar ayah selesaikam dulu membaca Alquran pas satu rukuk.” Jawab ayah lalu melanjutkan kembali bacaan Alqurannya.


Beberapa menit kemudian, ayah menyudahi bacaannya lalu menutup

Alquran. Diletakkannya Alquran itu di rak yang tak jauh dari tempat beliau duduk. 

“Silahkan nduk, mau bicara apa!” Kata ayahku mempersilahkan diriku memulai pembicaraan.


Aku memulai pembicaraan dengan menyampaikan hasil konsultasiku dengan ibu ghani. Tentang pola asuh yang kuterima selama ini juga luka yang selama ini kurasakan pada ayahku.


🌸🌸🌸


“Tante arka dewi masih punya luka hati yang tersimpankah dengan ayah?” tanya ibu ghani memulai sesi konsultasi.


Siang itu dihari weekend aku mendatangi rumah ibu ghani. Kebetulan ibu ghani pun sedang punya waktu luang untuk konsultasi dirumah. Kedua anakku kutitipkan pada kakak ipar yang rumahnya  hanya berjarak 500 meter dari rumahku.


“Mungkin iya ibu ghani, hanya saja dewi bingung. Perilaku yang mana dari ayah yang membuatku luka. Mungkinkah dari perbandingan yang sering ayah lakukan?”

Tanyaku balik pada ibu ghani.


Dengan wajah penuh kelembutan, senyum yang menentramkan dan nada suara yang halus ibu ghani menjelaskan, “ Iya dari gambar ini terlihat sekali tante dewi punya luka hati dengan ayah. Di alam bawah sadar, tante dewi merasa di rumah terlalu banyak dikekang aturan. Perasaan terkekang ini membuat tante dewi menjadi tidak betah dirumah. Padahal tante dewi inginnya bisa berekspresi dan bebas.”


Aku terdiam mencoba mencerna uraian ibu ghani. Aku tertunduk, tiba-tiba saja air mata mengalir deras membasahi pipiku. Hatiku tak menolaknya, luka hati itu benar adanya.


“Masya allah ibu ghani, kenapa aku jadi terenyuh mendengarnya?” tanyaku pada ibu ghani sambil terisak-isak dalam tangisku.


Ibu ghani tersenyum memandangku sambil menjawab “iya tidak apa-apa. Menangislah tante dewi. Terima perasaan sedih ini, saat ini tante dewi sedang berusaha mengakui adanya luka hati.”


Lalu ibu ghani memberikan aku waktu sejenak untuk melepas semua perasaanku. Hingga aku kembali siap melanjutkan sesi konsultasi. 


“Lalu apa yang harus kulakukan ibu ghani? Bagaimana cara memperbaikinya?” Tanyaku lagi sambil mengusap air mataku dengan tissu. Lalu ku minum teh hangat yang disajikan oleh ibu ghani.


“Nanti bisa kita lihat di gambar pohon masa kininya,” jawab ibu ghani.


“Oh, ada hubungannya kah?” tanyaku lagi pada ibu ghani.


“Ada, sangat berhubungan.” Jawab ibu ghani sambil memakan buah duku yang juga disajikan sebagai teman kami konsultasi.


“Untuk memperbaikinya tante dewi bisa melakukan tiga tahapan. Pertama, menyadari bahwa semua yang terjadi sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Pasti ada hikmah dari setiap hal yang terjadi pada kita. Terimalah bahwa murni semua itu karena kekurangan kita sebagai manusia. Kekurangan ayah yang murni karena minimnya pendidikan tentang parenting di zaman dahulu.”


“Kedua, mau memperbaiki. Tante dewi cukup ambil yang baik-baik saja dari pola asuh ayah dan ibu. Bahwa bagaimanapun kita dibesarkan pasti ada hal positif yang bisa diambil. Misalkan dari didikan ayah mengajarkan disiplin dan tanggung jawab. Dari ibu bisa diambil ketaatannya terhadap suami. Sedangkan yang dirasa kurang nyaman bisa jadi pelajaran agar tak terulang lagi pada anak-anaknya tante dewi.”


“Yang ketiga karena sudah berkeluarga pasangan harus tahu jadi bisa membantu di proses memperbaikinya. Yang kesatu dan kedua insyaallah sudah bisa. Yang ketiga itu proses selamanya.” Ibu ghani mengakhiri penjelasannya.


Selanjutnya ibu ghani memintaku menunggu sejenak. Ibu ghani mengambil perlengkapan alat tulis dan kertas di ruang tengahnya. Lalu kembali padaku,

“Ini buat tante dewi menggambar pohon masa kini ya. Gambar pohon apa saja, kecuali yang tidak boleh pohon padi-padian, pohon pisang, pohon kelapa dan  beringin”.


Lalu mulailah aku menggambar menggunakan pensil 2B berwarna hijau. Aku membuat pohon mangga karena sekarang sedang musim buah mangga.


“Aduh enaknya buah mangga ya di cuaca sepanas ini. Apalagi dibuat jus mangga ala thailand yang lagi hits, hmmmh. Campuran pure mangga dan whipped cream ditambah potongan mangga sebagai toppingnya sungguh menggoda,” ucapku dalam hati.


“Ayo mikirin apa?” tanya ibu ghani sambil tersenyum.

“Ini loh mbak dewi disambi makanannya, santai aja sambil gambar.” ucap ibu ghani lagi.


“Iya ibu ghani, terimakasih”. jawabku singkat.


Saat sedang serius menggambar buah-buahan di cabang pohon manggaku, aku dikejutkan dengan sesuatu yang tiba-tiba menempel dikakiku. Sesuatu yang lembut, halus dan berbulu. Aku pindahkan pandangan mataku ke bawah meja.


“Meong..meong..meong..”


“Astaga ternyata seekor kucing anggora menggemaskan yang berada dikakiku”.

Ucapku sambil memandang kucing gemuk berwarna orange dan semu putih itu. Lalu kuangkat dan kuelus kucing itu dipangkuanku.


“Wah mbak dewi suka kucingkah?” tanya ibu ghani.


“Tentu ibu ghani seperti Nabi yang sayang sekali dengan kucing.” jawabku masih sambil mengelus kucing anggora.


“Namanya kitty mbak dewi. Kucing peliharaan anak sulungku. Anak sulungku suka sekali hewan.” Jawab ibu ghani.


“Benarkah ibu? aku juga suka sekali binatang terutama kucing. Wah apa cita-citanya putra sulung ibu? jadi dokter hewankah?” tanyaku penasaran.


“Tidak, cita-citanya ingin punya halaman yang luas untuk memelihara binatang. Ia ingin punya kebun binatang yang bebas ke alam,” jawab ibu ghani penuh kebanggaan.


“Wah, hebat. Semoga cita-citanya tercapai ya bu”, ucapku penuh kagum.


Ya, aku kagum dengan para generasi muda yang diusia belianya sudah tahu potensinya. Lebih tepatnya terkadang aku iri dengan mereka. Apalagi ketika mereka sudah beprestasi pada potensi yang mereka kembangkan. Bahkan sampai ada yang menghasilkan pendapatan. Ah, sudahlah iriku bisa beratus-ratus kali lipat.


“Ibu ghani ini gambaranku sudah selesai.”

Sambil kuserahkan hasil gambarku pada ibu ghani.


Ibu ghani pun meneliti hasil gambaranku. Katanya sih setiap gambaran itu menggambarkan perasaan dan perilaku kita. Aku baru tahu kalau ilmu psikologi sehebat ini. Selama ini yang aku tahu kalau kita ke psikologi itu karena mengalami gangguan jiwa. 


Sejak bertahun-tahun yang lalu suami kerap menyuruhku untuk coba konsultasi ke psikologi. Namun aku mengeluh bingung apa yang harus dikonsultasikan. Padahal sebenarnya diriku belum siap untuk menerima semua hal yang akan dikoreksi dalam kehidupanku.


“Alhamdulilah hasilnya alam bawah sadarnya sudah sinkron dengan yang tante dewi katakan. Sudah cukup besar kesadaran untuk move on dari masa lalu,” jelas ibu ghani.


“Alhamdulilah, senang sekali mendengar hasilnya,” ucapku sambil tersenyum. 


Beberapa tahun belakangan sebelum konsultasi ke ibu ghani, aku memang berusaha untuk memaafkan, menerima dan memaknai masa laluku. Aku hanya mencobanya sendiri melalui beberapa cara yang dibagikan para terapi, pakar parenting dan psikologi.


“Oh iya tante dewi. Mengetahui kita dibesarkan dengan pola asuh seperti apa itu berpengaruh sekali terhadap kelanggengan dalam berumah tangga dan pola asuh. Karena nantinya berdampak terhadap perilaku kita dalam mendidik anak juga sikap kita terhadap pasangan.”

Ucap ibu ghani mengingatkan.


“Ibu senang sekali, karena sekarang tante dewi sudah mau mengubah keegoisan sebagai koleris. Tante dewi mau belajar menjadi lebih baik. Bagus banget itu. Apalagi minta sendiri, jarang loh ada yang mau minta konsultasi seperti tante dewi.” Ibu ghani berkata sambil tersenyum memandangku.


“Alhamdulilah, terimakasih ibu ghani.. Maaf ya kalau saya merepotkan terus. Bolak-balik konsultasi. Semoga saya bisa istiqomah ya bu.” ucapku penuh haru pada ibu ghani. 


Sudah pasti ibu ghani mengenal sifat koleris. Karakter sifat koleris memang sangat senang sekali dipuji hasil perbuatannya. Akupun demikian merasa sangat berharga ketika perbuatanku sekecil apapun dipuji. Bukan karena para koleris itu riya’ atau haus pujian. Tapi memang hatinya diberi anugrah begitu oleh Tuhan.


🌸🌸🌸


Tak berapa lama suara motor suamiku terdengar mendekati halaman rumah ibu ghani. Kulihat suamiku memarkirkan motornya di halaman rumah ibu ghani yang dipenuhi dengan rumput jepang. 


“Assalamualaikum,” salam suamiku


“Waalaikumussalam,” ucapku dan ibu ghani menjawab salam.


“Monggo mas duduk dan disambi makanannya,” ucap ibu ghani mempersilahkan suamiku masuk.


Lalu suamiku ikut duduk disampingku dikursi jati klasik panjang. Peluh keringat memenuhi dahinya. Mukanya terlihat sangat lelah, bau asap rokok tercium dari pakaian yang dikenakannya. Asap rokok bukan berasal darinya tapi dari duduk bersama dan ngobrol sejenak dengan teman-teman kerjanya. Begitulah kondisi suamiku usai mencari nafkah. 


“Ah, pasti panas sekali ya mas diluar?” tanyaku.


“Ya begitulah sayang, ditambah debu dan asap.” jawabnya membenarkan.


“Ini mas diminum tehnya, atau kalau mau menyegarkan minum segelas air mineral kemasan dulu saja,” ujar ibu ghani menawarkan.


“Iya ibu ghani terimakasih. Wah sudah sampai mana ini konsultasinya? sudah ketinggalan ya aku?” ucapnya usai menghabiskan segelas air mineral.


“Ya beberapa point lah mas tentang aku dan ayahku. Tapi aku siap untuk menceritakannya kembali,” ucapku sambil tersenyum memandang sosok teman hidupku.


“Wah baiklah sayang, aku siap jadi pendengar,” jawabnya.


Aku dan ibu ghani tertawa mendengar jawabannya. Selanjutnya ibu ghani memberikan peralatan menggambar yang tadi aku gunakan kepada suamiku. 


“Nah sekarang gantian mas zanjabila yang menggambar ya,” perintah ibu ghani.


-Bersambung-


#Hari ke5

#TantanganMenulis15Hari













No comments for "MEMBASUH LUKA MASA LALU PART 2"