MEMBASUH LUKA MASA LALU PART 3 (END)


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1f9caWg9U1wSNX_TAx9cifrfljHUzF5oK



Sambil menunggu suamiku yang sedang menggambar. Aku melihat isi ruangan di ruang tamu ibu ghani. Ruangannya tertata sangat menarik. Perabot yang ada didalamnya pun mewah. Dindingnya dilapisi dengan motif-motif kekinian yang tinggal tempel atau kita kenal dengan wallpaper dinding.


Diantara ruang tengah dan ruang pembatas ada rak sebagai sekat. Rak itu berisi berbagai macam guci. Sudah jelaslah ya kalau ibu ghani orang yang berada. Suaminya seorang pengusaha sukses yang membangun bisnisnya dari bawah.


Guci-guci di rak itu penampakannya berbeda-beda. Ada yang berwarna putih, biru, dan hitam. Yang putih desainnya tinggi dan ramping, Yang biru desainnya bulat dan pendek. Sedangkan yang hitam desainnya bulat dan gagah. Tapi guci-guci yang berbeda ini malah semakin memperindah ruangan.


“Ah, mengapa guci-guci ini mengingatkan pada diriku dan saudara-saudaraku.”

Batinku.


Aku teringat perkataan ayah  tentang badanku yang terlalu kurus tidak seperti saudaraku yang lain. Di lain pihak saudara-saudaraku malah merasa terpojokkan dengan perkataan ayah,

“Yang badannya turunanku itu hanya nduk dewi. Dari dulu tetap konsisten badannya ramping.”


Begitulah kebiasaan ayah yang baru aku tahu belakangan ini. Dia bakal memujiku pada saudara yang lain. Dan memuji saudara yang lain didepanku,

“Sungguh menyebalkan memang ya? Kenapa tak memuji didepan orangnya saja  secara langsung kalau begitu.” Ucapku dalam hati


“Sebenarnya tak perlu memuji sih, cukup tidak membandingkan dengan orang lain sudah lebih baik.” Ucapku lagi. 


Aku kembali teringat saat usiaku masih belia. Saat itu aku benar-benar merasa frustasi dengan sifat ayah. Ayah selalu menuntutku untuk berprestasi setinggi-tingginya disekolah. Beliau selalu memintaku untuk belajar lebih giat lagi agar nilaiku menjadi sempurna.


“Nduk, ayo belajar lebih giat lagi. Jangan hanya puas dengan juara kelas. Kamu harus bisa dalam jajaran juara umum.”


Hari itu aku sangat lelah, juara kelas tak cukup buat ayah. Tak ada apresiasi sama sekali akan hasil yang kudapat. Aku merasa malah dikritik karena tak jadi juara umum.


“Ayah aku sudah berusaha belajar dengan baik selama ini. Tapi tetap saja aku tak dapat juara umum. Apakah ayah tak tahu itu?” Ucapku dengan suara terisak-isak. Akhirnya aku menangis meluapkan perasaanku.


“Loh ayah kan cuma bilang saja. Ayah cuma memotivasi kamu supaya jangan cepat puas dengan prestasimu sekarang. Kamu harus lebih lagi.” Jawab ayahku.


Saat itu aku hanya mendengar suaranya. Karena aku tak sanggup untuk memperlihatkan tangisku didepan wajah beliau. Aku benamkan kepalaku pada tanganku yang terlipat diatas meja belajar. 


Begitulah ayah, sepertinya hampir sama dengan kebanyakan orangtua di zamannya. Hidup yang sangat keras dan masa kecil penuh kesulitan. Membuatnya berprinsip bahwa yang bisa merubah nasib menjadi lebih baik adalah ketika kamu pintar dan berprestasi di sekolah.


Namun yang mengenaskan, prinsip itu sekarang bertentangan dengan penelitian saat ini. Bahwa peringkat kelas hanyalah nomor kesekian untuk meraih kesuksesan. 


Ditambah lagi ayah seringkali menyandingkan prestasiku dengan saudara perempuanku, 

“Kalau diperingkat ya nduk, kamu itu masih berada di tiga puluh besar di sekolah. Masih jauh sih sama mbakmu yang sepuluh besar di sekolah.”


Perbandingan yang terus menerus kudapatkan membuat aku menjadi anak yang rendah diri. Aku merasa bahwa diriku sama sekali tak berguna. 


Sudahlah tak pintar, rupa biasa saja, bukan keluarga kaya juga fisikpun tak ideal. Bahkan aku sempat protes kepada Tuhan. Aku merutuki diriku sendiri kenapa terlahir begitu menyedihkan.


“Nduk, gimana kalau kamu ikut les tambahan lagi diluar sekolah? Ayah nggak masalah kok, insyaallah uangnya ada kalau untuk les tambahan. Daftar saja, les yang bagus dimana?” tanya ayahku ketika melihat prestasi belajarku yang semakin turun drastis saat SMA.


Berbeda dengan saudara perempuanku yang diterima di sekolah SMA favorit. Ayahku harus puas dengan diriku yang hanya diterima di sekolah swasta.


Jangankan juara umum, juara kelas pun sangat jauh dari jangkauan. Entahlah saat SMA aku sama sekali tak berprestasi. Aku sangat kesulitan memahami pelajaran yang menuntut kepandaian berhitung.


Alih-alih menerima saran ayah, aku malah menolaknya mentah-mentah.

“Sudahlah ayah, aku nggak mau. Aku sudah sangat lelah dengan jam pelajaran tambahan di sekolah sampai jam empat sore. Kalau ditambah les diluar sekolah bisa-bisa aku sampai rumah maghrib”. Kuletakkan sepatuku di rak sepatu dan langsung menuju ke kamar.


Jika kupikir sekarang sungguh aku sangat keterlaluan di masa belia. Bukannya taat dan menerima saran orangtua, aku lebih sering bertengkar dan malas menyampaikan pendapat. 


Karena seperti sudah menjadi hukum mutlak bahwa orangtua selalu benar. Ditambah keyakinan bahwa apapun yang mereka lakukan dan putuskan itu adalah untuk kebaikan anaknya.


🌸🌸🌸


Hari ini aku diuji, sejauh mana aku bisa mengendalikan diri. Setelah aku sampaikan semua yang menjadi ganjalan dalam hatiku kepada Ayah. Jantungku pun berdebar menunggu jawaban dan respon ayah.


Ayah memulai pembicaraannya,”baiklah nduk kalau kamu sudah selesai dengan pendapatmu. Sekarang gantian ayah, jadi ayah ini orang zaman dahulu yang kehidupan ekonominya sulit. Ayah tak pernah kenal ada orang pintar membaca sifat dan yang lain kamu sampaikan tadi.”


“Tapi yang ayah tahu dulu hanya bagaimana caranya supaya anak-anakku tidak merasakan kesulitan seperti diriku. Dulu aku tak pernah tahu kalau berjualan makanan ternyata bisa juga menghasilkan banyak uang. Orang yang menggambar sesuatu dengan gambarnya bisa menghasilkan uang. Yang aku tahu kalau aku pandai dipelajaran sekolah, aku bisa mengangkat derajat kehidupanku.” ucap ayahku lagi.


“Aku ingin mengubah kehidupan keluargaku, adik-adikku dan orangtuaku menjadi lebih baik.” kali ini matanya sudah hampir memerah mengingat masa lalu dan tujuan hidupnya selama ini.


“Lalu yang kamu bilang ayah sering membanding-bandingkan. Maafkan lah ayah jika kamu merasa seperti itu. Ayah tak pernah bermaksud mengatakan kamu tak baik, tak pandai atau hal-hal yang jelek. Tapi ayah hanya ingin memotivasi dirimu dan saudara-saudaramu untuk lebih baik lagi.” jawab ayah yang sudah mulai mengeluarkan air mata.


Aku diam mendengarkan semua jawaban ayah. Membiarkannya meluapkan segala pemikiran serta perasaannya. Karena memang ayah sudah mendengarkan aku daritadi. Aku yang berbicara penuh tangis dan terisak-isak.


Syukurlah suamiku sudah berpesan sebelumnya kepadaku. Karena memang respon yang aku terima diluar dugaanku. Ayah tetap tak pernah merasa membandingkan diriku. Terlihat jelas dari jawabannya kepadaku.


“Kalau memang ingin membandingkan, lebih baik membandingkan diri si anak sendiri. Bandingkanlah pencapaian dirinya yang terdahulu dengan sekarang. Bukan membandingkan dengan orang lain terlebih saudara sendiri.” Ucapku sebelumnya mencoba memberi saran dari beberapa pakar parenting yang pernah kubaca.


“Semisal, kakak kamu sekarang kok jadi asal ya kalau meletakkan barang? Padahal nih ya dulu saat kakak berusia dua tahun, kakak sudah pandai loh merapikan mainan setelah bermain.” Jelasku memberi contoh kepada ayah dan ibuku.


Aku tetap mendengarkan dan mencerna pendapat ayah. Kali ini aku yang akan berusaha memahami beliau. Aku bukan anak kecil lagi yang berusia belasan tahun. Aku sendiri sekarang adalah ibu dari dua anak perempuan. Aku sangat mengerti perasaan orangtua ketika anaknya tak menghiraukan saran, pendapat atau ucapan orangtuanya.


“Tak apalah jika ayah tak merasa membandingkanmu. Toh kamu tak menuntut ayah untuk memahami atau membenarkan pendapatmu. Kamu hanya ingin mengungkapkan dan melepaskan perasaanmu selama ini,” ucapku dalam hati. 


Bukan dengan tanpa alasan aku berucap pada diri sendiri seperti ini. Semua kulakukan agar diriku tetap tenang, tidak terbawa keegoisan diri yang tak mau kalah seperti dahulu. Aku ingin berubah menjadi seorang anak yang lebih baik menurut versiku. Menjadi anak yang memahami orangtua tanpa menuntut ingin balik dipahami.


🌸🌸🌸


“Bagaimana? masih adakah yang ingin kamu sampaikan kepada ayah?” tanya ayah mengakhiri pendapatnya yang menjawab semua ungkapan hatiku.


“Tidak ada ayah, semua yang ingin aku katakan sudah aku katakan.” jawabku mantap.


Tak lama terdengar suara azan ashar. Sore itu kami tutup dengan suasana penuh air mata. Aku merasa lega telah melepas semua bebanku dimasa lalu. Aku pun jadi tahu semua perasaan orangtuaku selama ini. Perasaan yang mungkin jadi simpanan dalam hati mereka.


Mereka memilih untuk tetap menyembunyikannya dan mencoba melupakannya. Mereka memilih tetap menyambutku penuh suka cita saat aku datang bersama anak-anakku mengunjungi mereka. Mereka tetap selalu mendoakan kebaikan untuk diriku. Bahkan doanya bertambah untuk kebaikan cucu-cucu mereka.


Lima hari lagi insya allah akan aku dapatkan hari kemenangan. Setelah mengungkapkan semua perasaanku hari ini, aku akan menjadi sesuatu yang baru. 


“Kembali menjadi suci lahir dan batin di hari yang fitri.” syukurku dalam hati.


🌸🌸🌸


“Sekali lagi maafkan aku ya ayah, terimakasih atas usaha dan jerih payah ayah selama ini membesarkan aku. Jaga kesehatan ya ayah. Semoga selamat sampai ditujuan.”

Ucapku pada ayah saat mengantarkannya perjalanan pulang kembali ke kota perantauan.


Aku pandangi punggungnya yang mulai menjauh masuk ke dalam bandara,

“Ayah, aku mungkin tak menjadi seperti harapanmu selama ini. Tapi aku berjanji untuk berusaha menjadi ibu dan anak yang lebih baik lagi.”


“Terimakasih atas pelajaran baik yang kau berikan selama ini. Kejujuran, kerja keras, kedisiplinan dan keyakinan. Akan kuajarkan itu kepada anak-anakku,” ucapku dalam hati. Pipiku kembali basah dengan air mata, ayah sudah tak terlihat. 


-End-


#Hari ke6

#TantanganMenulis15Hari














No comments for "MEMBASUH LUKA MASA LALU PART 3 (END)"