MENYATUKAN DUA KELUARGA (PART 1)

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1CUjLbarQMIgH0FDdDBF9CgCNvdBRIFQh



“Dan diantara tanda-tanda kebesaranNya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung merasa tentram kepadanya, Dan dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang mau berpikir,” (QS Ar-Ruum ayat 21).


Begitulah firmannya Allah yang sering aku dengar dan baca. Lihat saja di setiap undangan pernikahan, biasanya dibagian akhir atau belakang tercantum ayat diatas. 


Sampai saat aku menikah yang ada dalam pikiran dan perasaanku adalah aku sudah serasi dengan karakter suamiku. Aku belajar menerima dirinya menjadi suamiku dengan segala kekurangan dan kelebihannya.


Namun dalam perjalanan pernikahanku. Aku mengalami banyak hal yang menyadarkanku. Bahwa menikah bukan hanya menyatukan aku dan suami. Tetapi menikah juga merupakan suatu proses menyatukan keluargaku dan keluarga pasanganku.


Karena saat aku dan suamiku sah menjadi pasangan. Saat itu pula keluarga suamiku menjadi keluargaku. Itu artinya aku harus memberi rasa hormat dan kasih sayang yang sama pada keluarga suamiku seperti

keluargaku sendiri. 


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


“Nduk, sudah makan siang belum?” tanya ibuku dari teras mushola kepadaku.


“Belum ibu nanti makan disana saja insya allah,” jawabku yang sudah berada dimotor bersama anak-anak dan suami. 


“Mbok makan dulu toh nduk, kasian itu loh anak-anak,” ucap ibuku lagi membujuk kami.


Suamiku yang sudah mengenakan helm menoleh pada diriku, begitupun aku juga memandang matanya. Hanya berpandangan saja, tapi suamiku sudah mengerti maksudku.


“Nanti saja ibu, kami makan disana. Kami pamit dulu ya bu. Assalamualaikum..” jawab suamiku pada ibuku sambil tersenyum.


Ibuku akhirnya hanya merestui kepergian kami yang belum sempat makan siang sambil berkata,

“Waalaikumussalam, hati-hati ya nduk.”


Dan kami pun berlalu pergi menuju ke lokasi keluarga suamiku. Ditengah perjalanan anak-anak sudah tertidur. Tentu saja karena jarak yang lumayan jauh juga anak-anak kelelahan bermain sejak tadi pagi dengan saudara-saudara yang seumuran.


“Mas habis ini belok ke kanan ya,” ucapku menginformasikan arahan google map pada suamiku.


Suamiku pun bersiap-siap untuk berbelok. Sudah sekitar satu jam kami melakukan perjalanan. Tapi belum ada tanda-tanda kami sampai di lokasi.


“Kenapa rasanya sawah-sawah ini nggak ada habisnya ya mas? mas yakin jalannya benar?” tanyaku pada suami memastikan.


“Hmmh, iya insyaallah bentar lagi sampai.” jawab suamiku.


Entah sudah berapa kali suamiku menjawab demikian. Aku tak ingin bertanya lagi, kalau sudah begini aku hanya percaya pada supir sajalah. Semoga aku masih bisa bertahan. Karena rasanya panggul dan punggungku sudah sangat lelah. Perutku rasanya makin tak karuan.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


“Rasanya segar ya mas, melewati sawah begini. Hijau semua nggak ada habisnya. Jarang kan kita bisa lihat pemandangan seperti ini.” ucapku mencoba mengajak bicara suamiku agar tak bosan.


“Iya ya, biasa lihatnya sumpek. Rumah yang padat nggak teratur.” Jawab suamiku.


“Coba kalau kita lewat jalan utama pastinya macet sekali penuh asap, panas pula. Untungnya kita lewat jalan alternatif yang meski lumayan ramai tetap bisa jalan,” ucap suamiku lagi mencoba mengajakku menikmati suasana.


Zanjabila, suamiku memang sesuai dengan namanya. Penuh kehangatan dan selalu berpikir positif. Meski aku tahu dia sendiri tak tahu pastinya kami sedang berada dimana. Namun pikiran positifnya membuat ia yakin kalau kami akan sampai ditujuan.


Siang ini adalah hari raya fitri kedua. Dan seperti kebiasaan orang indonesia pada umumnya. Hari raya kedua tetap diisi dengan acara silaturahim ke sanak saudara. 


“Kalau menurut ayah sih lebih baik nduk kamu di mbah sudji saja sampai selesai acaranya. Kan kalau dari keluarga zanjabila kalian sudah sering ikutan. Kalau acara keluarga ayah ini entah kapan ada lagi,”

Ucap ayahku tiga hari yang lalu memberi saran kepada kami.


“Insya allah ayah, nanti kita usahakan ikut acara di mbah sudji.” jawabku pada ayah.


Dan benar kami memang ikut acara di mbah sudji, keluarga besar dari pihak ayahku. Seusai salat zuhur kami segera berangkat ke keluarga suamiku.


Sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh ya, satu jam perjalanan harusnya kami sudah sampai ditujuan. Namun, suami memilih jalan alternatif dengan tujuan menghindari  macet kendaraan.  Alhasil perjalanan yang hanya mengandalkan google map, membuat kami memerlukan waktu dua kali  lipat lebih lama untuk sampai ke tujuan.


“Kasian ya mas, anak-anak akhirnya harus tidur dijalan lebih lama ini. Belum makan dan cuacanya panas sekali lagi,” ucapku sambil memegang badan calista yang tertidur bersandar dipunggung abinya.


“Iya, kasian. Tapi mau gimana lagi ya sayang? Kalau kita tadi makan siang dulu bakal makan waktu lebih lama. Nanti saudara yang disana keburu pada selesai lagi kelilingnya. Ini saja sudah ketinggalan kunjungan dua rumah.” Jawab suamiku.


“Iya mas, aku mengerti kok. Makanya tadi aku lihat mas. Biar mas yang jawab saja sama ibuku.” Ucapku sambil mengusap kepala calista.


Ya, sudah beberapa kali kejadian seperti ini terjadi pada kami. Menurut kami tak mudah memang ketika jadwalnya mudik ke jawa. Karena pastinya, kami disibukkan tiada henti berkunjung ke rumah sanak saudara. Karena saudara-saudara dari kedua belah pihak keluarga kami semuanya ada di jawa.


“Serba salah ya sayang. Kalau kita nggak ke keluargaku ya gimana. Nggak ke keluarga ayah mertua juga gimana,” ucap suamiku lagi memulai pembicaraan.


Aku tersenyum dan menjawabnya “iya mas, mungkin banget disana kita jadi omongan disini kita jadi omongan.”


“Tapi nggak apa-apalah. Yang penting kita sudah berusaha untuk mengikuti keduanya. Bukan hanya berat di satu pihak keluarga. Kalau masih dianggap salah ya sudahlah. Kan kita nggak bisa memaksa orang lain untuk paham keadaan kita.” ucapku sambil meringis menahan perutku yang bergejolak. Sungguh tak nyaman sekali, aku sedang hamil lima bulan berkendara motor hampir dua jam lebih. 


“Semoga kamu baik-baik saja ya sayang,adik yang diperut. Insyaallah sebentar lagi kita sampai.” ucapku dalam hati sambil mengelus perutku.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, kami pun sampai dilokasi tempat keluarga suami berkumpul. 


Sambil menunggu para saudara melaksanakan salat, kami beristirahat dulu di salah satu rumah pakdhenya suamiku. 


“Sudah makan siang belum le?” tanya sepupunya suamiku.


“Belum, mbak.” jawab suamiku apa adanya.


“Yo kono le mangan sek, ono sop ayam.” Ucap sepupu suami menawarkan makan siang.


“Nggih mbak, sekejap mawon. Ngeluruske awak sek.” jawab suamiku sambil duduk santai diruang tamu beralas karpet bermotif bunga matahari.


Kedua putriku duduk disampingku. Mereka minum segelas es sirup coco pandan yang disajikan. Terlihat sekali mereka menikmatinya. Pastinya terasa segar usai dari perjalanan panjang ditengah teriknya sinar matahari.


Tiba-tiba mataku tertuju pada beberapa bungkusan daun pisang dihadapanku. Kupalingkan pandanganku pada anak-anakku yang juga sedang melihat bungkusan daun.


Dengan mata penuh harap si sulung berkata, “umma aku mau tape ketan ya?”


Yang kedua tak kalah menyusul pula, “umma, adek juga mau tape ketan.”


Aku tertawa kecil melihat ekspresi mereka lalu berkata “iya, boleh. Satu bungkus saja dulu ya, kan kak huriyah sama adik calista belum makan nasi. Nanti habis makan nasi dan sop, baru deh boleh makan tape ketan lagi. Sopnya enak loh.”


“Iya umma,” jawab mereka serentak, lalu dengan senang hati mengambil tape ketan.


Sambil menunggu mereka makan tape ketan, akupun menuju ke belakang. Mengambil dua piring berisi beberapa sayuran yang sudah ditata. Ada wortel, kacang kapri, ayam suwir, bawang goreng dan jamur putih atau jamur es.


“Wah, sedap sekali ini sopnya. Khas banget ya adanya di jawa,” ucapku sambil menuangkan kuah ke dalam piring.


“Wah iya nduk, nambah loh ya.” Ucap mbak nani, sepupunya suamiku.


Aku hanya tertawa kecil mendengar tawarannya dan kembali menuju ruang tamu.


-Bersambung-


*Le atau tole : panggilan untuk anak laki-laki

*nduk : panggilan untuk anak perempuan


“Yo kono le mangan sek, ono sop ayam.” 

(Ya sana nak makan dulu, ada sop ayam)


“Nggih mbak, sekejap mawon. Ngeluruske awak sek.”

(Ya mbak, tunggu sebentar. Ngelurusin badan dulu).


*Tape ketan : makanan tradisional dari ketan yang difermentasikan. Biasanya dibungkus dengan daun pisang atau daun jambu.


#Hari ke7

#TantanganMenulis15Hari


No comments for "MENYATUKAN DUA KELUARGA (PART 1) "