MENYATUKAN DUA KELUARGA (PART 2)

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1MxTcTIKoS9oLe1qujkNjcrD-0Uy2I1bN




Delapan tahun yang lalu, pertama kalinya aku berkunjung ke kota asal ayah dan ibu mertua. Saat itu aku baru saja memiliki anak, bayi perempuan berusia delapan bulan yang baru belajar makan. Aku frustasi karena bayi huriyah sering mengemut makannya.


“Nek anak ki ora gelem mangan ojo mbok pekso. mesake ngantek nangis-nangis!”

Ucap salah satu kakak iparku. Mbak arumi berucap sambil memangku huriyah yang masih belepotan makanan tambahan dimulutnya.


“Iyo, mangan kan yo ra mesti nasi toh yo. Wes mangan seng lia-liane yio ra po po,”

Ujar kakak iparku yang lainnya, mbak aini.


Aku hanya diam saja, hatiku benar-benar jengkel. Rasanya ingin aku menjawab perkataan mereka sambil berteriak “Memangnya itu anak siapa? itu kan anakku. Kenapa kalian ikut campur? kalian tahu apa?”


Tapi teriakan hatiku itu tak sampai keluar. Aku hanya diam saja. Duduk diam tak menjawab apapun. Tak mungkinlah aku memulai keributan di rumah pakdhe tertua suamiku. Saat itu suamiku sedang diluar melihat beberapa kambing di kandang. Pakdhe bayu memelihara kambing disamping rumahnya.


“Adek huriyah, yuk sini ikut abi. Kita makan sambil lihat kambing ya,” suamiku yang baru saja masuk ke dalam rumah 

mengambil bayi huriyah dari mbak arumi.


Digendongnya huriyah ditangan kirinya, lalu tangan kanannya membawa kotak makan kuning bersama sendok kecil di dalamnya. Ia tak mendengar apapun yang terjadi di dalam rumah. 


Akupun menyusul suamiku tanpa berkata apapun pada kakak-kakak iparku. Aku menahan air mata dipelupuk mataku. Sambil mengaitkan tali sepatu sandalku,

“Jangan sampai mereka melihat aku menangis.”


Aku datangi suamiku dan bayi huriyah,

“Memangnya mereka tahu kalau huriyah sering terbangun di tengah malam menangis karena kelaparan?”

“Mereka tahu berat badannya yag kurang?” Ucapku kini sudah meneteskan air mata.

“Mereka nggak tahu berapa lama aku tetap menahan diri tak memaksa huriyah makan bila tak mau. Tapi yang terjadi huriyah lebih memilih tidur daripada makan”. Ucapku berlinang air mata.


Suamiku hanya diam memandangku. Ia yang tak tahu masalah apapun, tiba-tiba diserbu dengan tangisan dan teriakan.


“Sayang, kamu itu kenapa?” tanya suamiku heran.


“Mbak-mbakmu itu loh, bilang aku kelewatan memaksa anakku makan,” ucapku masih dengan tangisan dan kekesalan. 


“Aku tuh nggak suka mereka sok ikut campur dalam urusanku. Padahal mereka nggak tahu apa-apa. Mentang-mentang mereka sudah mengurus anak bayi lebih dulu.” Ucapku penuh emosi dengan kata-kata yang makin tak terkontrol.


“Loh yang bilang begitu kan bukan aku! Kenapa sayang malah marahnya sama aku?” Jawab suamiku ketus


Aku terkejut mendengar jawabannya. Aku semakin lemas dan tak berdaya. Aku hanya berdiri mematung di dekat kandang kambing. Suamiku sama sekali tak membelaku tapi ia malah memarahiku balik. 


Begitulah pikiranku saat itu, aku benar-benar tak sesuai dengan keluarga suamiku. Aku merasa stress tiap kali aku menjalani hari-hari bersama mereka.


🌸🌸🌸 


“Kuah baksonya dimana tante dewi? Kami cari-cari kok nggak ada?” tanya keponakan suamiku saat melihatku yang baru saja kembali dari bepergian.


“Loh ada di dapur ita, tadi pagi sebelum pergi sudah tante masak di panci besar.”

Jawabku yang sedang duduk di kursi ruang tamu. Menyandarkan punggungku yang masih mengenakan tas ransel biru.


“Nggak ada loh tante dewi, tadi udah dicari dibelakang,” ucap mbak aini membenarkan perkataan tia.


“Jadi tadi kita makan pake saos sambal saja,” ucap kakak tertua suamiku, zafran.


Aku pun tergesa-gesa menuju ke belakang. Kulihat panci berisi kuah yang kuletakkan diatas kompor lenyap. 


“Ibu, tadi lihat panci berisi kuah bakso ikan nggak ya diatas kompor?” tanyaku pada ibu mertua yang sedang menyeduh teh. 


“Ora, mangkane nek dekek i le pener. Ora sak-sak nggon,” jawab ibu mertuaku dengan nada ketus sambil menutup termos. Lalu pergi meninggalkan dapur.


Aku masih berada di dapur. Mataku tertuju pada panci yang berada di bawah meja. Aku ingat panci itu yang tadi kugunakan untuk memasak kuah bakso. Saat kubuka, isinya bukan lagi kuah bakso tetapi baceman tahu tempe.


Kutinggalkan dapur dengan penasaran. Lalu bertanya pada mbak aini yang masih asyik berbincang dengan mas zafran.

“Mbak aini, tadi yang membacem siapa ya?” 


“Oh, tadi yang sibuk membacem di dapur ibu,” jawab mbak aini.


“Kenapa tante? ketemu kuah baksonya?” tanya mas zafran.


Aku tersentak, “nggak ketemu mas zafran. Yang kutemukan panci buat merebus kuah sudah ganti berisi baceman tahu tempe.”


“Wah berarti kemungkinan dibuang ibu lah,” ucap mbak aini ikut sedih.


Suamiku mendekatiku, “yuk sayang kita ke kamar dulu. Tasmu berat kan? sini aku bawakan.”


Aku lalu menurutinya, berjalan ke lantai atas melewati tangga. Sambil memikirkan kuah bakso ikan buatanku yang hilang. 


Sesampainya di kamar suamiku mencoba menjelaskan padaku, “sayang maaf ya. Kemungkinan kuah baksomu yang buang ibuku. Aku tak tahu alasannya, tapi maafkanlah ya.


“Kenapa tadi ketika aku tanya, ibu bilang nggak tahu mas?” tanyaku lagi.


“Aku nggak tahu sebabnya ibu buang sayang, yang aku tahu ibuku memang begitu. Jangankan ke sayang, ke anak-anaknya juga begitu. Kalau salah pun gengsi buat mengakui.” Jelas suamiku.


“Ah, entahlah mas.” jawabku lagi.


Aku teringat saat aku membuat kuah bakso ikan. Aku membuat bakso ikan dan kuahnya di malam takbiran. Aku menyelesaikan semuanya hingga jam sebelas malam. 


Tidak mudah untukku membuatnya, aku membuatnya diselingi tangisan bayi huriyah. Saat ia terbangun untuk menyusu, aku berhenti sejenak membuat bakso ikan. Aku naik ke kamar atas menyusuinya. 


Setelah selesai menyusuinya. Aku turun lagi ke dapur dan melanjutkan masakanku. Saat itu abinya huriyah tak ada dirumah. Abinya sedang ikut takbiran di masjid Al Hidayah dekat rumah ibu mertua.


“Tante dewi sudah selesai buat kuah bakso ikannya?” tanya mbak aini padaku usai mencuci dan merapikan perabotan yang digunakan membuat bolu marmer.


“Udah mbak aini,” jawabku singkat.


“Oh kalau sudah mau mbak aini matikan lampu dan tutup pintu dapurnya.” Mbak aini berkata sambil bersiap menutup pintu dapur.


“Sudah kok mbak aini,” jawabku lagi meyakinkan.


Ruang dapur di rumah ibu mertuaku memang memiliki pintu sendiri sebagai pemisah dengan ruang keluarga. Karena ruang dapur lebih terbuka menuju ke atap tempat penampungan air. Maka agar keamanan terjaga pintu ruang dapur pun ditutup.


Selama beberapa hari, sejak kejadian itu. Aku lebih banyak diam dengan ibu mertuaku. Tentu saja karena aku masih menyimpan kekesalan. Juga tak suka dengan ketidakjujuran.


Hingga hari ketiga, tiba-tiba ibu mertua memulai pembicaraan padaku “Aku lihat panci berisi rebusan air, kirain apaan? Ku kira nggak dipakai akhirnya ya kubuang saja.”


“Lain kali kalau memang masih dipakai itu ditaruh yang benar. Taruh dibawah meja saja,” ujar ibu mertuaku lagi.


Aku hanya diam mendengarkan ucapannya dan dengan takjub memandangnya.


“Hah, aneh. Tak ada ucapan maaf sama sekali karena sudah membuang kuah ku. Aku malah diceramahi masalah peletakan. Memang nggak bisa tanya-tanya dulu?”

ucapku dalam hati.


“Iya ibu,” jawabku singkat.


Syukurnya aku teringat ucapan suamiku,

“Ibuku gengsian, nggak mau mengakui kesalahannya meski beliau salah. Berbagai alasan bakal diucapkannya agar beliau tak disalahkan. Begitulah ibuku sayang. Sejak dulu sudah begitu ke anak-anaknya.”


Lagi-lagi aku benar-benar tak sejalan dengan keluarga ini.


-Bersambung-


*Pakdhe : Paman

*Mbak : panggilan untuk perempuan yang lebih tua

*Mas :panggilan untuk laki-laki yang lebih tua


“Nek anak ki ora gelem mangan ojo mbok pekso. mesake ngantek nangis-nangis!”

(Kalau anaknya nggak mau makan jangan kamu paksa. Kasian sampai nangis-nangis)


“Iyo, mangan kan yo ra mesti nasi toh yo. Wes mangan seng lia-liane yio ra po po,”

(Iya, makan kan nggak harus nasi ya. Sudah makan yang lain-lainnya ya nggak apa-apa)


“Ora, mangkane nek dekek i le pener. Ora sak-sak nggon,” 

(Nggak, makanya kalau meletakkan sesuatu itu yang benar. Jangan asal tempat saja)



#Hari ke8

#TantanganMenulis15Hari








 




No comments for "MENYATUKAN DUA KELUARGA (PART 2) "