MENYATUKAN DUA KELUARGA (PART 3)


https://drive.google.com/uc?export=view&id=18LIRyQZp-VTYgNJJqk7he730krJVWWUg


Tak berapa lama setelah melaksanakan salat zuhur para saudara suamiku datang ke rumah pakdhe Kresno . Mereka pun ikut mengambil makanan bersama kami. Suasana pun menjadi ramai, tak heran karena suamiku empat bersaudara dengan jumlah keponakan yang lebih dari sepuluh.


“Kowe ki sering-sering o dolan neng kene, kan wes ra kerjo meneh.” Kata budhe sri, istrinya pakdhe kresno.


“Ho o, aku yo pengen e isoh sering dolan merene,” jawab ibu mertuaku. Dipegangnya tangan budhe sri yang berkeriput.


Sejak tadi aku memperhatikan Ibu mertuaku berbincang. Sungguh ramah sekali kalau berbicara dengan orang lain, terlebih saat acara seperti ini. Sering bercanda dan tersenyum. Sangat berbeda ketika bicara dengan keluarga dan anak-anaknya sendiri.


🌸🌸🌸


“Ibuku itu orangnya moody sayang, kadang ia bisa baik banget. Kadang tiba-tiba marah-marah sendiri.” Aku teringat ucapan suamiku.


Hanya perbincangan sederhana. Tapi efek yang kurasakan luar biasa. Suamiku seperti memberiku persiapan, harapannya agar  tak terlalu kaget jika mengalami konflik dengan ibu mertua.


Saat itu aku mendengar ibu berjalan bolak balik mencari sesuatu dari kamar ke ruang keluarga. 


“Ndi toh charger ku kiy? Kok ra ono yo?”

Beberapa kali ibu bergumam sendiri.


“Prang...” suara gelas pecah, sepertinya jatuh dari meja makan karena tersenggol tangan ibu mertua selepas mencari charger handphone di rak.


“Halah sopo toh le dekek gelas neng kene ki? Dekek gelas kok neng pinggir mejo,” ucap ibu mertuaku.


Saat itu aku sedang berada di dapur. Aku hanya membatin “ibu kenapa sih? marah-marah sendiri. Biarin sajalah.”


Berikutnya ibu mengambil sapu dan membereskan pecahan-pecahan gelas. Tentunya masih sambil menggerutu. 


Beberapa menit kemudian, suamiku turun dari kamar atas. Ia melihatku dari pintu dapur, “Ngopo e ibu ki? yang jatuhin gelas siapa? marah-marahnya ke siapa?”


“Menyalahkan menaruh gelas dimeja makan. Lah kalau nggak menaruh dimeja makan? gelasnya diletakkan dimana? aneh,” ucap suamiku lagi.


Aku malah tertawa geli mendengar ucapan suamiku, “Terdengar sampai atas mas?”


“Kedengaran kok sampai atas,” jawab suamiku.


“Ibu lagi mencari apa? Kok sampai marah-marah?” tanya suamiku penasaran.


“Sepertinya tadi mencari charger handphone! tapi entah kenapa sambil marah-marah,” jawabku.


“Ibukuuuu,” seru suamiku lagi. Sambil berlalu pergi menuju halaman, hendak mengendarai motor membeli sesuatu.


Aku kembali tertawa mendengar ucapan suamiku. Saat kami mengobrol tentunya ibu mertuaku sedang tidak dirumah. Ibu mertuaku sedang ke warung bersama anak-anakku. Seperti biasa, anak-anak dibelikan jajan sama mbah utinya.


🌸🌸🌸


“Ibu, gelas berasnya dimana ya?” tanyaku kepada ibu mertua sambil melihat sekeliling penyimpanan beras. Masih mencari gelas takar beras.


“Yo neng kono kuwi toh, dek ingi tak taruh neng beras e”, jawab ibu mertua yang sedang menonton tv.


“Nggak ada bu,” jawabku lagi meyakinkannya.


Ibu mertua mendekati tempat beras dan ikut memastikan, “wah iyo, kok ra ono yo, ya wes nganggo gelas sak sak e wae. Podo wae kok.”


“Oh ya baiklah,” aku berlalu ke dapur untuk mencuci beras. Lalu mengambil asal  saja gelas yang ada di rak piring untuk menakar beras.


Beberapa menit kemudian aku masih sibuk persiapan memasak pepes tahu dan udang. Aku masukkan beberapa sendok campuran tahu dan udang yang sudah dibumbui kedalam daun pisang. Kemudian membungkus, menyematkan lidi dan memasukkannya ke dalam kukusan yang sudah panas.


“Lah iki gelase,” ucap ibu mertua di depan pintu dapur.


“Loh ketemu bu? dimana?” jawabku sambil memasukkan bungkusan pepes ke panci kukusan.


“Yo neng jero beras kae kok, tak buka buka lagi ono.” ucapnya masih sambil memegang gelas takar.


“Oh ya sudah syukurlah kalau sudah ketemu.” ucapku masih dengan keheranan. Padahal tadi jelas-jelas nggak ada gelas takar di dalam beras.


Tak lama aku menuju ke ruang tamu. Kuletakkan segelas kopi disamping laptop suamiku. Suami yang sedari tadi mendengar obrolan kami berkata, “Itu sih paling ibu ambil gelas lagi di lemari.”


Memang gelas yang digunakan buat menakar itu gelas belimbing. Sebutan model gelas zaman dahulu yang bagian bawahnya mirip buah belimbing.


“Beneran mas? Ibu seperti itu?” tanyaku lagi.


“Iyalah, ibu tuh begitu. Nggak mau kalah dan salah.” jawab suamiku mantap. 


Mendengarnya aku malah geli sendiri, “kok malah kayak anak kecil saja ya?”


“Ncen kok,” kata suamiku.


Aku masih saja merasa lucu jika mengingat kejadian itu. Setelah delapan tahun dalam keluarga suamiku. Aku mulai terbiasa dengan sikap keluarga suamiku. 


Hubunganku dengan keluarga suamiku terbilang biasa saja. Bukan yang rukun, harmonis dan romantis bak di drama. Namun aku sendiri yang mulai berubah. Mulai mencoba untuk memahami dan memaklumi masing-masing karakter keluarga suamiku.


Dalam proses belajarku terkadang aku bisa memaklumi. Terkadang bisa sedih juga sampai menangis. Tapi suamiku selalu menghibur dan menasihatiku.


🌸🌸🌸


“Abi, abi.. lihat deh umma. Umma nangis abi!” Kata kak huriyah melapor kepada abinya yang berada di kamar sebelah.


Aku mendengar dari dalam kamar suara kak huriyah berbicara pada abinya. Saat itu abinya sedang berada di kamar sebelah tak jauh dari kamar yang kami tempati. Di kamar itu ada televisi tabung berukuran 14 inci. Suamiku sedang menonton pertandingan sepakbola dari televisi saat kak huriyah mendatanginya.


Beberapa menit kemudian kudengar kedatangan anak-anak dan suamiku,

“Sayang kenapa? Kok nangis?” tanya suamiku.


Aku angkat kepalaku dari bantal, air mata sudah membasahi pipiku. Mataku merah dan membengkak. Aku terisak-isak menjawab pertanyaan suamiku,

“Tadi aku mau makan mas, kulihat  dimangkok tersisa satu potong ayam dan sedikit kuah opor. Lalu aku ke dapur untuk mengambil ayam lagi dan kuahnya. Opor ayamnya ada di panci masih hangat.”


“Aku ambil sepotong ayam dari panci di dapur. Buat tambahan opor ayam yang tinggal sepotong tadi. Anak-anak mengikutiku saat mengambil opor ayam. Tak lama ibu muncul dibelakang pintu dapur,” ucapku makin berlinang air mata menceritakan pada suamiku.


“Lalu setelah mengambil aku menaiki tangga menuju kamar atas bersama anak-anak,” ucapku melanjutkan cerita.


“Saat aku mencapai tangga atas, aku mendengar suara pintu dapur ditutup dengan keras. Aku mendengar ibu mengomel.” Ucapku dengan air mata yang  keluar semakin deras.


“Njelehi banget, wes tak angetin malah diutak utek meneh kuah opor e. Malesin, sebel aku. Hah..” aku tirukan ucapan ibu mertua pada suamiku.


Setelah itu suamiku memelukku. Ia mengusap punggungku, diam menunggu tangisku mereda.


Setelah tangisku mereda, ia berkata “sayang, maafin ibuku ya. Begitulah ibuku,  maunya yang ada di meja saja yang dimakan.”


Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dari perkataan suamiku. Sejak saat itu jika ditawarkan menu opor ayam ibu mertua, aku hanya mengambilkan untuk anak-anak. Karena aku merasa trauma dengan kejadian saat itu.


Aku memilih untuk memakan lauk lain selain opor ayam. Entah sampai kapan aku kembali bisa menelan opor buatan ibu mertuaku. 


🌸🌸🌸


Rasa terkejutku saat itu bukan tanpa alasan. Karena perilaku ibu mertuaku bertolak belakang dengan ibuku. Biasanya dirumahku jika lauk tinggal sedikit, aku akan mengambil di dapur. 


Jika aku hanya mengambil yang ada di meja makan, ibuku akan mengingatkan “nduk, kok cuma sedikit lauknya. Ambil lagi nduk dibelakang sana masih banyak.” 


“Oh masih ya bu? Aku nggak tahu,” lalu aku segera menuju ke belakang dan mengambil lauk lagi di panci.


Ibuku pastinya tak akan masalah jika aku mengambil lauk yang baru saja dihangatkannya. Bahkan beliau malah menyuruhku mengambilnya, “nduk ambil yang dibelakang itu loh, sudah ibu hangatkan.”


Dan suamiku yang juga beberapa kali ke rumah orangtuaku saat liburan juga paham. Jika ibuku sangat dermawan menyangkut makanan. 


Bahkan karena terlalu dermawannya ibuku sering mengeluh “Kok makanannya masih banyak ya? Apa nggak dimakan?”


Padahal ibuku sudah sibuk membuat makanan lagi di dapur saat masih banyak makanan di meja. Begitulah ibuku, pernah suatu hari beliau memberitahuku tentang nasihat yang diberikan orangtuanya.


“Walaupun kamu sehari-harinya makan nasi dengan garam. Saat ada tamu berilah makanan yang baik,” ucap ibuku mengingat masa lalunya.


-Bersambung-


“Kowe ki sering-sering o dolan neng kene, kan wes ra kerjo meneh.”

(Kamu sering-seringlah main kesini, kan sudah tidak kerja lagi)


“Ho o, aku yo pengen isoh sering dolan merene,”

(Iya aku ya inginnya bisa sering main kesini)


“Ndi toh charger ku ki? Kok ra ono yo?”

(Mana sih chargerku? Kok nggak ada ya?)


“Halah sopo toh le dekek gelas neng kene ki? dekek gelas kok neng pinggir mejo,” 

(Ah, siapa sih yang meletakkan gelas disini? Meletakkan gelas kok di pinggir meja)


“Ngopo e ibu ki? “

(Ibu kenapa sih?)


“Yo neng kono kuwi toh, dek ingi tak taruh neng beras e,”

(Ya disitu, semalam aku taruh di berasnya)


“wah iyo, kok ra ono yo, yo wes ngaggo gelas sak sak e wae. Podo wae kok.”

(Wah iya, kok nggak ada ya, ya sudah pakai gelas seadanya saja. Sama saja kok)


“Lah iki gelase”

(Lah ini gelasnya)


“Yo neng jero beras kae kok, tak buka buka lagi ono.”

(Ya di dalam beras itu kok, aku buka buka lagi ada)


“Ncen kok,”

(Benar kok)


“Njelehi banget, wes tak angetin malah diutak utek meneh opor e.”

(Menyebalkan sekali, sudah dihangatkan malah diaduk-aduk kuah opornya)



#Hari ke9

#TantanganMenulis15Hari








No comments for "MENYATUKAN DUA KELUARGA (PART 3)"