MENYATUKAN DUA KELUARGA (PART 4)

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1DaVogCHChcTTYti8sW0W37tKcF0R9ZYG



Setiap berkeliling ke sanak saudara dari pihak suami, biasanya selesai di malam hari. Karena semua saudara dari pihak ibu mertua dan ayah mertua berada di satu kota.


Seperti biasanya, malam ini pun jalanan masih ramai. Mobil-mobil berasal dari berbagai macam kota mudah ditemui dalam kondisi seperti ini. Mulai dari mobil plat B dan plat D yang paling banyak terlihat lalu lalang. Hingga plat luar pulau jawa seperti : BG, BA dan BE pun dengan mudah ditemui parkir di beberapa rumah makan.


“saat seperti ini semuanya keluar ya. Semua mudik silaturahim ke sanak saudara. Desa malah jadi ramai. Kota malah jadi sepi,” ucap suamiku.


“Ya, karena mereka juga mendapat hari liburnya hanya sebentar. Jadi waktu yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin,”

jawabku pada suami.


Beruntung tahun ini kami memutuskan untuk tak langsung pulang ke rumah ibu mertua. Kami menginap dirumah bapakku yang diurus oleh budhe ani. Kami memilih menginap supaya anak-anak bisa segera beristirahat.


“Alhamdulilah ya mas, sekarang kita bisa langsung istirahat. Biasanya letih banget perjalanan pulang ke rumah ibu,” ucapku penuh syukur pada suami.


“Iya sayang, apalagi ditengah keramaian jalan seperti ini. Yang biasa empat puluh menit sudah sampai rumah ibu, bisa jadi dua jam perjalanan,” ucap suamiku membenarkan.


Kulayangkan pandanganku di pinggir jalan. Kulihat warung tenda bertuliskan MIE GODHOG PAK KARNO. Aku langsung menepuk pundak suamiku. Lalu menunjukkan warung mie godhok dengan jari telunjukku,

“Mas, mas.., mie godhog itu terkenal enak loh mas di kota ini.”


Suamiku lalu menoleh ke arah warung yang ku tunjuk,

“Wah bisa nih dicoba. Tapi nggak sekarang lah ya. Karena ramai sekali dan kita sudah kenyang. Insyaallah lain waktu ya sayang.”


“Iya, “ jawabku singkat.


🌸🌸🌸


Melihat warung mie godhog mengingatkanku saat pertama kali aku makan mie godhog. Meski perkenalanku dengan makanan khas jawa tengah ini melalui hal yang kurang menyenangkan. Namun jika bukan karena kejadian itu, aku tak akan tahu betapa enaknya rasa mie godhog.


“Mas zafran, cari makan dulu ya buat huriyah. Tadi huriyah belum sempat makan pas mau ke outlet kaos. Ibunya pun nggak masak hari ini,” ucap suamiku pada mas zafran yang sedang fokus menyetir mobilnya.


“Oh yo le, arep mangan opo?” tanya mas zafran.


“Opo wae lah mas le cepet, seng ono kuah wae yo bakso,” ucap suamiku sambil mengelus huriyah dipangkuannya.


“Kalau aku kok inginnya nggak yang biasa ya, yang khas makanan sini lah. Kalau bakso kan sudah biasa. Aku malah ingin mie godhog,” ucap mbak arumi yang duduk disamping kiri ibu mertuaku.


Aku menahan geram  dalam hati mendengar permintaannya, “Ckckckck, mbak aku bukan lagi wisata kuliner. Tapi memikirkan perut anakku yang masih kecil sudah jam segini belum makan. Kalau semakin malam anakku keburu ngantuk.”


“Iya saja anakmu sudah makan, kamunya tenang. Terus nggak terpikir anaknya adikmu, mengerti nggak sih mbak kamu? atau pura-pura nggak mengerti?” aku mengomel lagi dalam hati.


Selain karena mbak arumi ini kesayangan mas zafran. Ditambah hanya ia adik perempuan yang tinggal di kota perantauan. Jadilah keinginannya dituruti oleh mas zafran. Kepentingan anakku pun terabaikan.


Aku maklum dengan adanya pilih kasih. Tapi menurutku harusnya tak setampak ini. Kalau aku dan suami yang berpendapat atau memberi masukan. Tak ada yang mau mendengarkan ucapan kami. Jika pendapat kami salah, kami habis-habisan dicerca sana-sini. Jika benar, maka saudara-saudara suamiku akan mengalihkan pembicaraan ke topik lain.


Tak berapa lama, mobil mas zafran parkir di sebuah warung makan di pinggir jalan. Warungnya ramai sekali dengan pembeli. 


Kulihat jam tanganku yang berwarna silver pemberian suamiku,

“Sekarang saja sudah jam sembilan lebih lima belas menit. Antriannya panjang begini, duh.. mau jam berapa lagi huriyah makan.” Lagi-lagi aku mengomel dalam hati.


Kami pun duduk di meja pelanggan yang ada di dalam warung makan. Tentunya satu meja tak cukup. Dua meja barulah pas untuk keluarga besar kami.


“Dek arumi mau pesan apa?” tanya mbak rianti, istrinya mas zafran.


“Ehm.. pesen capcay sajalah mbak rianti,” jawab mbak arumi.


“Loh katanya tadi mau pesan mie godhog?” tanya mbak rianti lagi.


“Nggak jadilah mbak, ingin mencoba menu lain saja. Aku juga masih kenyang, soalnya aku tadi sudah makan sebelum pergi. Biar prisilia saja yang pesan mie godhog.” jawab mbak arumi sambil memandang anak perempuannya prisilia.


“Yah prisilia, nanti bunda minta mie godhog punyamu saja ya nak?” tanya mbak arumi kepada anaknya sambil menatap penuh harap agar dikabulkan.


“Baiklah bunda,” jawab prisilia.


Aku makin malas melihat muka mbak arumi. Makin muak melihat wajahnya, 

“Sudahlah manja, hanya memikirkan diri sendiri dan melakukan sesuatu mendadak. Lah ditambah lagi sekarang tidak konsisten. Benar-benar nggak respect sama orang model begitu.” Lagi-lagi aku hanya bisa membatin.


Akupun berdiri, malas rasanya tetap berada disekitar mbak arumi dan saudara-saudara yang lain. Aku memilih keluar saja melihat huriyah bermain dengan sepupu-sepupunya yang seumuran di luar.


Beberapa puluh menit kemudian akhirnya pesanan kami tersedia di meja pelanggan.

Kami pun mulai memakannya. Aku dan suami bergantian menyuapi huriyah.


Kulihat mie godhog pesananku yang masih panas. Mie godhog ini terlihat sangat lezat. Baunya pun harum sekali menggugah selera makan. Karena penasaran kucicipi kuahnya.


Aku merasa terkejut dengan rasa kuahnya yang gurih. Rasa gurih ini membuatnya istimewa. Ternyata rasa gurih ini berasal dari ebi dan bumbu rempah lainnya. Mie godhog disajikan dengan potongan sawi, orak arik telur dan ayam suwir.


Sejak itulah mie godhog masuk dalam kategori makanan favoritku. Dan huriyah malam itu hanya makan sedikit sekali. Penyebabnya sudah dapat dipastikan karena ia sudah mengantuk, ditambah jam makan yang terlalu malam.


🌸🌸🌸


Meski aku sangat kesal dengan perbuatan-perbuatan saudara perempuan suamiku. Aku tetap mencoba untuk menghormati dan memaafkannya. Aku tersadar pentingnya memaafkan saat aku melakukan kesalahan. Aku pernah mengeluarkan amarah yang meledak-ledak kepada saudara perempuan suamiku.


“Aku minta maaf ya, sudah membuat keributan dalam keluarga ini tadi,” ucapku pada saudara-saudara suamiku.


Semuanya hanya diam, tak ada yang menjawab permintaan maafku. Aku pun masuk ke dalam kamar karena sudah tak kuasa menahan air mataku lagi.


Kejadian dimulai saat mbak arumi berpendapat tentang huriyah, “huriyah ditanya suka nonton televisi nggak dirumah? eh jawabnya nggak punya televisi.”


“Itu sama saja seperti ditanya pulang jam berapa? jawabnya nanti sore aku pulang.”

Ucap mbak arumi lagi.


“Itu ummanya kok yang membisikkan jawaban nggak ada televisi,” jelasku pada mbak arumi.


“Oh, makanya kok aneh saja huriyah jawab begitu. Ternyata umma nya ya, yang mengajarkan salah.” ucap mbak arumi sambil meminum tehnya. Lalu mencelupkan biskuit roma ke dalam teh dan memakannya.


“Padahal pertanyaan seperti itu harusnya di jawab si anak sendiri saja. Apapun jawabannya yang penting kejujurannya.” Ucap mbak arumi lagi masih menikmati teh manisnya.


Aku mulai tersulut emosi “Dengan kata lain, aku mengajarkan anakku nggak jujur begitu?” tanyaku lagi pada mbak arumi.


“Loh aku nggak bilang tante dewi bohong. Lah memang kenyataannya beneran nggak punya televisi juga kan. Hanya saja lebih baik biarkan anak menjawab pertanyaan sendiri.” Jelas mbak arumi.


“Sudahlah ya, masalah ini ditutup saja. Tak usah dibahas lagi. Maafkan atas ketidaknyamanan ini ya,” ucap mbak arumi.


Saat itu aku tak bisa berhenti begitu saja. Aku tak bisa menghentikan diriku. Aku terlanjur kesal dan marah,

“Siapa dia sok menilai anakku? menilai caraku? mengkriktikku salah?” ucapku dalam hati.


“Oh begitu ya, iyalah benar. Mbak arumi kan memang lebih tahu karena kerjanya di bidang itu. Kalau aku apalah ya? Nggak mengerti apapun!” ucapku dengan ketus. Tak ingin menutup pembicaraan ini begitu saja.


Sepertinya saat itu semua emosi yang tersimpan di dalam hatiku selama ini sudah tak bisa dibendung lagi. Kemarahanku siap meledak. Bukan sekali ini saja aku merasa mbak arumi ikut campur dalam pengasuhanku.


Sebelumnya, ia sempat menceritakan pada ibu mertua dan saudara-saudara yang lain tentang cara kami mengajarkan huriyah menghafal Alquran. Menurutnya kami terlalu keras dan memaksa. Terkadang ia mendengar huriyah menangis dari luar saat akan berangkat kerja.


“Nek anak e ora gelem ki ojo mbok pekso. Ngantek nangis-nangis mesakke. Ben wae sak karepe le moco.” ucap ibu mertuaku menasihati suamiku.


Padahal mbak arumi hanya mendengar dari luar rumah saja. Tanpa pernah bertanya atau melihat langsung cara kami mengajar huriyah. Yang terjadi adalah huriyah menangis dengan sendirinya saat hafalan. Ia menangis karena lupa atau salah-salah membaca ayat karena mengantuk.


Kami sedang mengajarkan kak huriyah untuk konsisten dengan aturan yang telah kami sepakati bersama. Bahwa sebelum bermain huriyah terlebih dahulu sudah setoran hafalan Alquran kepada umma atau abinya. Tujuan lainnya agar hafalan Alqurannya tetap terjaga.


-Bersambung-


“Oh yo le, arep mangan opo?” 

(Oh iya nak, mau makan apa?)


“Opo wae lah mas le cepet, seng ono kuah wae yo bakso,”

(Apa sajalah mas yang cepat, yang ada kuah saja ya bakso)


“Nek anak e ora gelem ki ojo mbok pekso. Ngantek nangis-nangis mesakke. Ben wae sak karepe le moco.”

(Kalau anaknya nggak mau itu jangan di paksa. Sampai nangis-nangis kasihan. Biarin saja terserah maunya yang membaca)


#Hari ke10

#TantanganMenulis15Hari












No comments for "MENYATUKAN DUA KELUARGA (PART 4) "