MENYATUKAN DUA KELUARGA PART 5


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1ojVekZmpXLTi9K8EYBpkqOuPO3fGcSwd



“Mas aku tak sanggup lagi rasanya. Aku harus bagaimana ya?” tanyaku pada suami setelah menangis semalaman akibat perseteruan dengan mbak arumi.


Suamiku memelukku sejenak lalu melepas lagi, “ya sudahlah sayang nggak apa-apa.  Waktulah yang akan menyembuhkan segalanya.”


Suamiku pastinya tak membela salah satupun. Bukan berarti ia tak sayang istrinya. Tapi sebagai kepala keluarga ia selalu berusaha untuk netral dan melihat masalah dari dua sisi.


“Wajarlah kalau seorang suami ikut terbawa emosi istri. Ia akan membela istrinya,” suamiku memberi pendapat tentang sisi lemah seorang suami.


“Iya kah mas? kalau mas nggak begitukah? Aku merasa nggak pernah dibelain kalau bertengkar dengan seseorang,” ucapku mengingat beberapa pertengkaranku dengan orang lain.


“Ya, sama saja. sebenarnya di awal beberapa kali ikut membela istri. Hanya mas kembali lagi mencoba netral. Mencoba melihat dari dua sisi, supaya nanti bisa memberi saran yang lebih baik. Nanti yang ada sayang semakin bertengkar. Tak ada keinginan sayang untuk rukun kembali,” jawab suamiku.


Aku yang mendengar takjub, merasa bahagia bahwa ternyata selama ini suamikupun demikian. Keinginannya untuk membela istri pastilah ada. 


“Karena fitrahnya laki-laki itu lemah dengan wanita sayang. Alquran dan hadis menyebutkan seperti itu. Sedangkan perempuan lemahnya terhadap harta,” ucap suamiku lagi.


Aku mengerti maksud suamiku. Kenyataan yang terjadi di dunia memang seperti itu. Meskipun wanita diciptakan dengan kondisi akal yang lemah, kenyataannya banyak lelaki yang cerdas, kuat, gagah perkasa dibuat lemah olehnya. Tidak sedikit seorang kaya raya miliader nekat berbuat korupsi demi istri tercinta.


🌸🌸🌸


Perdebatan antara aku dan mbak arumi membuat hubungan kami renggang. Jarang-jarang kami berteguran. Aku pun memilih berbicara seperlunya saja dengan mbak arumi. 


Selama beberapa hari setelah kejadian pun aku masih kesulitan menghilangkan kekesalanku. Hingga aku teringat kembali sebuah kejadian.


“Aku heran dengan mas ahkam. Mas ahkam itu kalau lagi bertengkar sama huriyah kok sering banget menyuruh huriyah pulang?Lalu menutup pintu sambil bilang huriyah kamu nggak boleh masuk,” Aku bertanya kepada mbak arumi.


“Iya ahkam seperti itu dengan huriyah?” tanya ibu mertua yang berada disamping mbak arumi.


“Iya ibu sering banget seperti itu, aku heran siapa yang ia tiru?” ungkapku keheranan.


Mbak arumi sedari tadi hanya diam saja tak menjawab apapun pertanyaanku. Hingga selang beberapa menit kemudian ia menjawab.


“Ahkam itu meniru tante dewi. Ia suka lihat dari jendela. Tante dewi menutup pintu dan tidak memperbolehkan huriyah masuk. Karena kesal ia bermain terus-terusan tak ingat pulang ke rumah,” kata mbak arumi sambil memotong sayur buncis yang akan dimasak.


“Benarkah karena itu? aku memang pernah begitu dengan huriyah beberapa kali. Tapi itu sudah lama sekali, jauh sebelum ahkam sering berperilaku begitu”, ucapku membantah.


Mbak arumi menjawab lagi ucapanku dengan mimik wajah yang menyiratkan kekesalan, “Ya memang sudah lama, tapi namanya anak kecil ya daya ingatnya kuat.”


Akupun hanya diam saja dengan jawabannya. Merasa kesal pula dalam hati, “kenapa jadi bawa-bawa perilaku ku?”


Beberapa hari kemudian ahkam kembali mengusir huriyah ketika bertengkar. Mengusirnya dari kamarnya sambil bilang “tak kunci pintunya. Kamu nggak boleh masuk.”


Saat itu suamiku yang berada tak jauh darisana melihat dan mendengarnya. Dengan sigap ia mengajak huriyah bermain menjauh darisana. Mencoba menghiburnya agar tak sedih.


“Perilaku ahkam itu meniru mbak arumi sayang,” ucap suamiku.


“Nggak mas. Katanya mbak arumi, ahkam malah meniru aku.” jawabku lalu menceritakan kejadian sebelumnya.


Setelah mendengar ceritaku suami berkata, “Hah? yang benar saja? Mas lihat sendiri mbak arumi masuk kamar dan mengunci pintu saat sedang marah dengan ahkam. Lalu berkata kamu nggak boleh masuk.”


“Yakin mas?” tanyaku lagi.


“Iya yakin, nggak mungkinlah meniru sayang. Itu kan sudah lama sekali juga cuma dua kali berperilaku begitu. Saat itu kan sayang belum tahu ilmunya. Setelah tahu itu kurang pas langsung berubah,” suamiku mantap menjawab pertanyaanku.


“Aneh sekali, padahal anaknya meniru dirinya. Kenapa malah melimpahkan kesalahan padaku ya? atau dia sendiri nggak sadar?” aku bertanya dalam hati merasa heran.


“Astaghfirullah..” aku berucap setelah ingat kejadian antara ahkam dan huriyah.


Aku tersadar akan sesuatu “Apa bedanya diriku dengan mbak arumi? ternyata aku sama saja dengannya.”


Aku menyadari kesalahanku. Aku sama dengan mbak arumi yang tak suka ketika anaknya mendapat kritikan. Padahal sangat mungkin kritikan itu benar. Bisa jadi itu masukan dan cara Tuhan mengingatkan pola asuh kita yang kurang benar.


“Hmmh begini rasanya ya, ketika perilaku anakku dikritik seseorang. Rasanya tidak nyaman sekali. Responnya langsung ingin marah,” ucapku dalam hati.


Sejak itu, aku berjanji untuk berubah. Aku tak ingin menjadi seperti mbak arumi. Aku berusaha bisa menerima masukan dan menyaring terlebih dahulu laporan orang lain perihal anakku.


Aku berusaha tak mengkritik perilaku anak orang lain. Jika memang harus memberi masukan, aku akan memberi masukan dengan bahasa yang baik. Dan memang berikutnya Tuhan mengujiku lagi dengan hadirnya orang lain yang mengkritik perilaku anakku.


🌸🌸🌸


Mbak arumi masuk kerumahku berdiri di pintu dapur sambil menangis tersedu-sedu. Tangannya memegang handphone, “Iki salahku mbak, salahku ora bali bali. Sampe bapak wes ra ono, aku urung bali.”


Deg,

Aku yang sedang duduk menyusui bayi calista diruang keluarga langsung lemas. Dari pembicaraan mbak arumi lewat telpon, aku sudah paham apa yang terjadi.


Suamiku keluar dari kamar mandi, menuju musala untuk melaksanakan salat asar. Ia heran melihat saudara perempuannya yang sedang menangis. Mbak arumi kini sudah duduk disampingku.


“Ngopo mbak?” tanya suamiku.


“Bapak wes nggak ono zanjabil,” jawab mbak arumi masih terisak-isak.


Suamiku diam, lalu menuju musala. Ia melaksanakan salat asar terlebih dahulu.


Aku teringat dua hari sebelumnya aku sudah menyiapkan pakaian anak-anak dan kami di dalam koper. Kami bersiap-siap akan ke rumah bapak mertua.


Tak lama kudengar suara motor suamiku berhenti di depan halaman rumah. Usai mengucapkan salam, suamiku berkata “sayang, nggak jadi hari ini kita pulang ke rumah bapak.”


“Loh kenapa mas?” tanyaku pada suami.


“Mbak arumi masih ada ujian sertifikasi sampai hari sabtu. Mbak ainin juga bilang pulangnya bersama mbak arumi saja. Sekalian menunggu mbak arumi ujian sampai hari sabtu. Ini mas mau beli tiket kereta dulu ya,” ucap suamiku menjelaskan.


Ada sesuatu yang mengganjal ketika aku mendengar ucapan suamiku. Rasanya aku ingin mengajaknya pulang hari ini saja. Aku tak tahu perasaan apa ini. Namun sayangnya, perasaanku tak sampai ku utarakan pada suamiku.


-Bersambung-


“Iki salahku mbak, salahku ora bali bali. Sampe bapak wes ra ono, aku urung bali.”

(Ini salahku mbak, salahku nggak pulang-pulang. Sampai bapak sudah nggak ada, aku nggak pulang)


“Ngopo mbak?”

(Kenapa mbak?)


“Bapak wes nggak ono zanjabil,”

(Bapak sudah tidak ada zanjabil)


#Hari ke11

#TantanganMenulis15Hari





No comments for "MENYATUKAN DUA KELUARGA PART 5"