MENYATUKAN DUA KELUARGA PART 6 (END)


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1GYE8ZJ9Qtkza7Tlyden0UtLVLNdYtu7h


Kepulangan kami kali ini bukan karena liburan. Tetapi bapak sedang dalam keadaan kritis. Bapak mengalami sakit komplikasi. Penyakit diabetesnya menjalar kemana-mana. 


Sebelum kritis hingga harus dirawat di rumah sakit bapak bertanya pada cucu-cucunya “Le sak iki kan lagek liburan sekolah to? Kok anakku le adoh-adoh do ra bali?”


Arya, amar dan andrean tiga bersaudara anak mbak aini hanya saling berpandangan. Mbak aini yang berada di samping bapak menjawab “Iya pak, mohon dimaafkan. Mbak arumi sama adik zanjabil mungkin ada halangan sehingga belum bisa pulang.”


Bapak hanya diam sambil terus menatap cucu-cucunya yang sedang bermain bola di lapangan. Sejak mbak aini menceritakan perbincangan itu dengan mas zanjabil dan mbak arumi. Mas zanjabil ikut merasa sedih karena tak bisa mudik akhir tahun kemarin.


Mas selalu teringat pesan bapak, ibu dan saudara-saudara yang lain “Le kowe kan neng kono cerak ro mbakyumu. Nek ono opo-opo yang di duluin yo mbakyumu yio le.”


“Inggih insyaallah..” jawab suamiku singkat.


Karena pesan itulah setiap akan pulang ke rumah bapak dan ibu mertua. Suamiku selalu menawarkan pada mbak arumi “Mbak mau pulang ke bapak nggak? Kalau iya kapan?”


“Insyaallah tiga hari lagi zanjabil setelah urusan kantorku selesai, jawab mbak arumi.


Tiga hari berikutnya suamiku bertanya kembali “gimana mbak? jadi pulang kapan?”


“Aduh zanjabil, kalau nggak kamis ya jumat ya. Sekalian prissilia pembagian rapot,” jawabnya dengan tergesa-gesa hendak pergi jalan-jalan dengan keluarga.


Selepas salat jumat suamiku bertanya lagi pada mbak arumi. Dan jawabannya kali ini membuat suamiku sedih sekaligus kesal. 


“Sudahlah, zanjabil. kamu saja yang pulang. Suamiku malah dapat tambahan kerja proyek lagi ini,” jawab mbak arumi.


“Oh yo wes,” kata suamiku.


Wajahnya terlihat sangat lesu, “kalau tahu begini, aku pulang lebih dulu saja. Sampai tanggal segini ditunggu. Liburannya tinggal seminggu lagi, lelah dijalan saja jika pulang.”


Begitulah liburan akhir tahun kami tak jadi pulang ke bapak mertua. Dan seringnya ketika kami menunggu mbak arumi untuk pulang. Mbak arumi tak pernah memberi kepastian.


🌸🌸🌸


Malam itu pertama kalinya aku melihat suamiku menangis. Ia menangis dipangkuanku. Tangis kehilangan sosok seorang bapak yang sangat ia banggakan. Ia menangis tanpa suara, hanya air mata yang menetes dari matanya. Kini pendamping hidupku menjadi seorang yatim.


Saat kondisi suamiku membaik dan mulai bersiap-siap mengemasi barang, “mas mau pulang naik pesawat sajakah dengan mbak arumi? insyaallah lebih cepat sampainya. Kami nggak apa-apa menyusul naik mobil bersama yang lain.”


Suamiku menggeleng sambil berkata “nggak lah sayang. Kasian sayang nanti sama anak-anak. Mana calista masih kecil. Nanti huriyah siapa yang jagain?”


“Nggak apa-apa mas. Insyaallah bisa, kan  banyak saudara-saudara dari suami mbak arumi. Juga bapak dan ibu mertua mbak arumi,” jawabku pada suami.


Aku pun menawarkan saran yang sama kepada mbak arumi. Namun saranku ditolak pula. Selain karena harga tiket pesawat saat itu tidaklah murah bagi kondisi ekonomi kami. Suamiku pun belum mengerti situasi dan kondisi saat melakukan perjalanan dengan pesawat.


Hatiku masih tertahan, bukan tanpa alasan aku menyarankan suami dan mbak iparku untuk pulang dengan pesawat. Aku teringat kejadian saat mbah putri dari pihak ibuku meninggal.


Pagi itu ibuku terburu-buru memasukkan beberapa bajunya ke dalam tas. Sambil menangis ibuku menunggu kabar ayah. Ayah menelpon ibuku, “ibu, tiket pesawatnya alhamdulilah sudah dapat. Ibu bersiap ya, nanti ayah jemput balik ke bandara lagi.”


Ibuku sendiri yang berangkat menuju ke pulau jawa. Ibu berangkat masih mengenakan daster dan belum sempat mandi. Pikiran dan harapannya saat itu fokus bisa sampai di pulau jawa menemui jenazah mbah putriku.


Namun sayangnya takdir berkata lain. Sesampainya di bandara soekarno hatta, ibuku sudah tertinggal pesawat berikutnya menuju bandara adi sudcipto.


“Ibu lagi di jakarta ini nduk. Lagi nunggu pesawat berikutnya. Dua jam lagi insyaallah kata petugas bandaranya,” cerita ibuku lewat telpon.


Saat itu aku masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama. Ibu meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Karena lantai rumah sedang di pasang keramik. 


Harga tiket pesawat terbang saat itu sangatlah mahal bagi keluarga kami. Ayah sampai meminjam uang ke beberapa temannya untuk membeli tiket. Karena uang ayah dan ibu baru saja habis terpakai untuk membayar tukang dan membeli bahan-bahan bangunan.


“Alhamdulilah, ibu sudah sampai nduk. Tapi mbah putri sudah selesai dimakamkan. Ibu telat sampai sini,” kabar ibu lewat telpon. Samar-samar aku mendengar suara tangis terisak-isak beliau.


Aku bisa bayangkan perasaan ibu saat itu. Ibu yang tinggal di pulau sumatra, mbah putri yang tinggal di pulau jawa. Setelah merantau sangat jauh, jarang sekali bisa bertemu. Sampai akhir hayatnya pun ibuku tak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali. Tak bisa memandikan juga mengantar pemakaman jenazahnya.


“Nggak lah, naik mobil saja,” jawaban mbak arumi membuyarkan ingatanku.


“Oh ya sudah kalau mbak arumi ingin naik mobil saja,” jawabku pada mbak arumi. 


“Semoga bisa sampai tepat waktu, mas dan mbak arumi masih bisa bertemu bapaknya untuk terakhir kali,” doaku dalam hati.


🌸🌸🌸


Perjalanan kali ini sangat melelahkan. Mobil melaju dengan cepat. Sang supir pun bergegas ingin segera sampai. Kami berlomba dengan waktu. Berharap sampai tepat waktu.


Minggu pagi ini harusnya sesuai rencana kami sedang berada di stasiun. Dengan hati bahagia mudik bersama menuju rumah bapak mertua. Tetapi takdir berkata lain, bapak dipanggil sabtu sore. Tiket kereta kami batalkan. Dan sekarang, kami sedang duduk di mobil dengan hati yang penuh lara.


“Halo, mas zafran. Piye mas?” ucap mbak arumi menjawab panggilan telpon mas zafran.


“Dik arumi. Kapan kamu sampai sini?” tanya mas zafran.


“Sebentar lagi mas, kira-kira dua jam lagi kami sampai. Ini sudah ngebut,” jawab mbak arumi.


“Dik, maaf kami nggak bisa menunggu lagi. Pemakaman harus segera dilaksanakan. Disini sedang hujan, takutnya nanti kalau kelamaan tempat memakamkan jenazah bapak terendam air,” jelas mas zafran


Tangis mbak arumi pecah seketika. Aku pun yang mendengar meneteskan air mata. Suamiku tak terlihat air matanya, tapi wajahnya memerah menahan tangis.


“Mas nggak bisa nunggu sebentar lagi kah?” tanya mbak arumi penuh harap.


“Ora isoh dik, lah kowe di enteni sui ora bali-bali. Ngantek bapak ora ono kowe yio rung bali!” Jawab mas zafran.


Entah kenapa tanggapan mas zafran berubah. Baru kali ini aku mendengar mas zafran berbicara dengan nada kesal dengan mbak arumi.


“Iyo mas, maaf. Aku ki sak jane wes arep muleh. Wes arep tak ganti jadwal ujian sertifikasine. Tapi jarene dik aini, bapak ra po po. Bapak wes sehat, wes bali seko rumah sakit. Mangkane aku tetep ngikutin jadwal ujian sertifikasi. Baline tak undur hari minggu.” Jelas mbak arumi.


“Ya sudah, jadi ini pemakaman bapak segera dilaksanakan ya dik,” ucap mas zafran. Tak ada tanggapan dari mas zafran akan penjelasan mbak arumi.


Semalam samar-samar aku mendengar perbincangan antara mbak arumi dan ibu mertuanya. Mereka duduk di kursi bagian tengah. Sedangkan aku bersama suami dan anak-anak duduk di kursi belakang.


“Ini foto yang dikirimkan dik aini ketika bapak keluar dari rumah sakit bu. Terlihat sangat segar dan sehat. Rona wajahnya cerah dan damai. Tapi aku malah menangis lihat foto ini. Aku punya firasat biasanya orang yang mau meninggal seperti ini. Makanya aku bilang ke mas satria supaya kali ini ikut mudik ke jawa. Siapa tahu ini terakhir kalinya mas satria ketemu bapak,” ucap mbak arumi.


“Oh iya nampak cerah sekali,” tanggapan ibu mertua mbak arumi saat melihat foto bapak mertuaku.


Aku yang mendengar perbincangan mereka semalam. Lalu mendengar pembicaraan mbak arumi pagi ini dengan mas zafran. Mbak arumi memang sengaja menekan loud speaker di handphone supaya semua yang ada di mobil bisa mendengar.


Aku benar-benar merasa heran dan aneh “kalau sudah punya firasat seperti itu kenapa tidak segera pulang? meski mbak aini bilang apapun juga, harusnya mbak arumi tetap pulang. Kenapa sekarang malah balik seperti menyalahkan mbak aini yang menyarankan untuk tak perlu tergesa-gesa pulang?”


“Aku saja yang anak menantu sebenarnya kamis sore itu punya perasaan tak enak. Aku menyesal sekali, kenapa hari itu tak ku paksa saja suamiku untuk pulang. Jika kamis kami jadi pulang, pastilah mas zanjabil masih bisa bertemu bapak,” ucapku lagi dalam hati.


“Ah sudahlah,, sekarang bukan waktunya untuk begini. Semua dalam kondisi panik dan larut dalam kesedihannya masing-masing. Aku ambil hikmahnya saja dari semua kejadian ini,” ucapku dalam hati meredam perasaan negatifku sendiri.


🌸🌸🌸


Beberapa hari kemudian aku mencari-cari suamiku untuk meminta memindahkan beberapa kasur ke kamar yang kami gunakan.


“Mas..mas..mas..” beberapa kali ku panggil tak ada jawaban.


Lalu aku bergegas meninggalkan masakanku didapur menuju ke kamar atas. Saat sampai atas kulihat suamiku berada di dalam kamar almarhum bapak mertuaku. 


Ia duduk diatas tempat tidur sambil menutup wajahnya dengan tangan. Disamping ada ibu mertua sedang berdiri sambil mengelus punggungnya. Air mata mengalir dengan deras dari pelupuk matanya. Tahulah aku apa yang terjadi. Mengapa sedari tadi suami tak menjawab panggilanku. Suamiku menangis teringat almarhum bapaknya.


“Sayang, mulai sekarang kalau mau pulang ya kita pulang saja ya. Aku cukup menawarkan saja ke mbak arumi mau pulang bersama nggak. Kalau terlalu lama tak ada jawaban, ya sudah kita langsung pulang.” ucap suamiku kemarin malam.


“Yang penting aku sudah bilang dan mengajak untuk pulang bersama. Aku nggak mau kejadian kayak bapak terulang lagi dengan ibuku. Sudahlah aku jauh, tak bisa merawat mereka di hari tua. Apalagi aku anak laki-laki, aku ini masih punya kewajiban dengan ibuku,” suamiku kembali bercerita tentang perasaannya kepadaku.


“Pokoknya kalau ada kesempatan pulang, aku akan pulang. Nggak masalah dengan uang, uang bisa dicari lagi. Kan kita kerja memang uangnya buat dipakai,” sambung suamiku lagi.


“Ya, baiklah mas, Insyaallah.” jawabku singkat.


“Walaupun hanya tinggal saudara-saudaraku saja. Aku akan tetap pulang ke jawa. Tetap mempererat tali silaturahim dengan keluarga,” kata suamiku.


“Ya baiklah mas, semoga allah memberi kita rezeki yang banyak dan barokah ya. Allah beri kita kendaraan supaya kita sekeluarga bisa lebih nyaman dan leluasa jika mau silaturahim ke saudara-saudara kita,” ucapku pada suami.


“Aamiin..aamiin..aamiin”


Sejak suamiku ditinggalkan oleh bapaknya. Aku jadi mengerti betapa sayangnya ia dengan keluarganya. Jauh dilubuk hatinya ia pun ingin bisa dekat dan merawat kedua orangtuanya. 


“Ah, bagaimanapun sifat orangtua dan saudara-saudara kita. Pastinya kita tetap sayang mereka. Karena kita tak pernah bisa memilih ingin orangtua dan saudara seperti apa. Begitupula sebaliknya, semua sudah menjadi suratan takdir,” ucapku dalam hati.


“Akupun kadang berbeda pendapat dengan orangtua dan saudara-saudaraku. Kadang akupun bertengkar dengan mereka bila bertemu. Juga sering merasa tidak cocok dengan mereka,” aku kembali merenung dalam hati.


“Tapi hatiku bahagia ketika akan mudik dan membayangkan bertemu mereka. Rasa rindu selalu ada. Kenangan bahagia dan sedih saat berkumpul bersama mereka selalu ku ingat,” ucapku lagi.


Suamiku pernah berkata, “yang namanya saudara kalau terjadi perseteruan itu wajar. Yang nggak wajar itu kalau damai terus.”


Aku hanya tertawa sambil berkata “iya ya, benar juga.”


Aku berjanji pada diriku, bahwa aku akan belajar untuk menyayangi dan menghormati pula keluarga suamiku. Memaafkan kekurangan dan bersyukur atas kebaikan mereka. Dan proses pembelajaran ini akan terus berlangsung selamanya. Sampai akhir hayatku.


-End-


“Le sak iki kan lagek liburan sekolah to? Kok anakku le adoh-adoh do ra bali?”

(Nak, sekarang ini kan sedang liburan sekolah ya? Kok anakku yang jauh-jauh nggak pulang?)


“Le kowe kan neng kono cerak ro mbakyumu. Nek ono opo-opo yang di duluin yo mbakyumu yio le.”

(Nak kamu kan disana dekat sama kakak perempuanmu. Kalai ada apa-apa yang di dahulukan ya kakak perempuanmu ya nak)


“Inggih insyaallah..” (iya, insyaallah)


“Oh yo wes,” (oh, ya sudah)


“Halo, mas zafran. Piye mas?” 

(Halo, mas zafran. Bagaimana mas?)


“Ora isoh dik, lah kowe di enteni sui ora bali-bali. Ngantek bapak ora ono kowe yio rung bali!”

(Nggak bisa dik, lah kamu ditungguin lama nggak pulang-pulang. Sampai bapak nggak ada kamu belum pulang!)


“Iyo mas, maaf. Aku ki sak jane wes arep muleh. Wes arep tak ganti jadwal ujian sertifikasine. Tapi jarene dik aini, bapak ra po po. Bapak wes sehat, wes bali seko rumah sakit. Mangkane aku tetep ngikutin jadwal ujian sertifikasi. Baline tak undur hari minggu.” 

(Iya mas,maaf. Aku sebenarnya sudah mau pulang. Sudah mau kugantu jadwal ujian sertifikasinya. Tapi katanya dik aini, bapak nggak apa-apa. Bapak sudah sehat, sudah pulang dari rumah sakit. Makanya aku tetap mengikuti jadwal ujian sertifikasi. Pulangnya mundur jadi hari minggu.)


#Hari ke12

#TantanganMenulis15Hari




No comments for "MENYATUKAN DUA KELUARGA PART 6 (END)"