TERKABULNYA DOA (PART 1)


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1KTp5fB9ckxTQakiCfvJ2mVJ-cDFnZyow


“Allah merahasiakan kapan terkabulnya doa untuk menguji sejauh apa kita bersabar dan berbaik sangka kepadaNya”


Setiap malam di trimester akhir, aku bangun melaksanakan salat tahajud. Setelah salat tahajud aku melaksanakan salat tasbih. Usai melaksanakan kedua salat itu akupun berdoa. 


Aku berdoa meminta diriku dan janin di dalam kandunganku diberi kesehatan. Dan berharap Tuhan mengabulkan doaku, agar teman si janin bisa berpindah posisinya.


🌸🌸🌸


Siang yang terik, aku duduk disebrang jalan sambil menatap anak-anak TK mengerumuni penjual mainan.


“Mang yang ini berapa mang?” tanya anak laki-laki yang berbadan besar dan tegap.


“Mang aku mau yang ini! Ini uangnya mang,” kata seorang anak perempuan manis berkepang dua. 


Diantara keramaian itu kak huriyah muncul. Ia menatapku dengan ceria dari kejauhan. 


“Ibuuuu...” datang memelukku dan mencium pipiku. Wajahnya penuh keringat. Rambutnya yang di ikat kuda pun ikut berantakan. Bajunya pun kusut di beberapa bagian. 


Belum lagi rok belakangnya yang berubah warna menjadi coklat.

“Ah pastinya karena anak ini main prosotan di sekolah,” gumamku dalam hati.


“Umma kenapa kok matanya bengkak dan merah? umma habis menangis ya? tadi jadi periksa adik bayi ke bidan carolina?” Kak huriyah menyerbuku  dengan pertanyaan.


“Sudah kak huriyah, tadi umma sudah periksa adik bayi. Tapi hasilnya malah buat umma sedih,” jawabku sambil kembali meneteskan air mata.


“Kenapa umma?” tanya kak huriyah lagi.


“Nanti saja ya kak, nanti umma ceritain di rumah insyaallah kalau umma sudah tidak sedih lagi. Yuk kita pulang,” abinya menjelaskan.


“Iya umma? nanti diceritain?” tanya kak huriyah.


“Iya kak. yuk kita pulang,” ajakku.


🌸🌸🌸


Pagi itu dengan penuh suka cita aku, suami dan adik calista berangkat menuju bidan carolina. 


“Alhamdulilah adik bayi diperut, nanti kita bakal ketemu ya. Umma ingin melihatmu. Mudah-mudaham kamu sehat di dalam ya,” doaku dalam hati.


Sesampainya disana, kami sudah disambut oleh asistennya bidan carolina. Suasananya tak banyak berubah sejak tiga tahun lalu. Namun entah kenapa rumah sakit bersalin ini terlihat sepi sekali.


“Silahkan ibu masuk, sudah janjian kan dengan bidan carolina,” ucap asisten sambil tersenyum.


“Tensi dulu ya bu,” ucapnya lagi


Lalu mulailah asisten bidan carolina mengecek tensi ku menggunakan alat ukur tensi atau lebih tepatnya disebut sfigmomanometer.


“Maaf ya bu,” ucap asisten sambil memasang manset yang terhubung dengan selang ke lenganku.


Berikutnya asisten menekan balon pompa sambil fokus pada meteran penunjuk tekanan darah. 


“110/80..normal ya bu,” ucapnya sambil tersenyum.


“Yuk kita timbang dulu ya bu,” pintanya


Saat aku masuk ke ruangan, aku terpukau melihat bidan carolina tersenyum padaku di meja kerjanya. Bidan carolina inilah yang membantu kelahiran dua anak perempuanku sebelumnya.


“53 kg,” kata asisten.


“Gimana? terakhir kali kesini kapan?” tanya bidan carolina.


“Ehm kira-kira hampir tiga tahun,” ucapku.


Bidan carolina lalu mempersilahkanku untuk berbaring telentang di tempat tidur. Mulailah perutku dibuka dan di beri USG ultrasonik gel. Jeli ini berfungsi sebagai pelumas juga memperjelas suara obyek yang diperiksa.


“Wah anaknya perempuan lagi. Nih kelihatan kemaluannya,” ucap bidan carolina sambil masih menggerakkan transducer. Fokus mendengarkan suara dan melihat gambar.


“Ya pak..anaknya perempuan lagi. Huh, kenapa kemarin nggak kesini dulu sebelumya. Nanti diajarkan cara dapat anak laki-laki,” ucap bidan carolina lagi.


“Iya bu. Nggak apa-apa”, jawab suamiku.


Saat itu ada perasaan kecewa dalam benakku, “hah??perempuan lagi.” 


Sebagaimana para orangtua lainnya, wajar jika kami menginginkan anak laki-laki. Manusia yang pada dasarnya selalu merasa kurang. Merasa kurang jika belum mendapatkan anak berjenis kelamin sepasang.


Berikutnya bidan carolina terus menggerakkan transducer, “kepalanya sudah dibawah ini, bagus. Ehm coba kita lihat plasentanya ya!”


Beberapa menit kemudian ekspresinya berubah. Ada sedikit kecemasan dalam ekspresi wajahnya, “ehm.. yang jadi masalah plasentanya ini berada dibawah menutup jalan lahir.”


Deg,

Aku terkejut. Ini lebih mengecewakan daripada sekadar jenis kelamin, “terus gimana bu? masih ada kemungkinan berubah kah?”


“Hmmmh, ini hamilnya sudah besar pula ya. Sudah delapan bulan. Sebelum ini pernah USG nggak?” Bidan carolina bertanya. Ia berhenti sejenak dari menggerakkan transducer.


“Pernah ibu dengan doktor saat mudik kemarin ke jawa usia kehamilan enam bulan,” jawabku.


“Terus doktornya nggak bilang apa-apa?” 

Tanya bidan carolina keheranan.


“Nggak bu, doktor bilang semua sehat dan baik-baik saja,” jawabku.


“Kehamilan ini sudah sangat besar, kemungkinannya harus section caesar. Dan jangan bepergian jauh dulu ya bu, dikhawatirkan terjadi pendarahan. Ibu banyak-banyaklah makan hati dan sayur-sayuran hijau. Biar kondisi tubuhnya kuat jika terjadi pendarahan,” jelas bidan caroline.


“Ya allah, caesar? gimana ini?”ucapku dalam hati. Aku menahan air mata kesedihanku.


“Tak adakah cara lain agar aku bisa melahirkan dengan normal bu?” tanyaku penuh harap.


Bidan caroline menggelengkan kepalanya. Lalu menghentikan gambar, menekan tombol dan otomatis foto hasil USG keluar dari printer.


Bidan caroline mempersilahkan aku untuk turun. Lalu akupun duduk berhadapan dengan bidan caroline. Tak ada yang berubah dari bidan senior ini, kecuali rambutnya yang semakin memutih dan keriput di wajah yang semakin bertambah. 


“Ini lihat ya bu, plasentanya berada dibawah kepala bayi. Ini kepala bayinya!” bidan caroline menjelaskan sambil menunjuk foto.


“Plasenta yang berada dibawah ini menjadi penghalang bayi untuk bisa keluar menuju jalan lahir. Harusnya, plasenta ini letaknya diatas. Sehingga kepala bayi bisa menyundul dan keluar dari jalan lahir,” bidan caroline menjelaskan sambil menatapku.


Air mataku sudah keluar, “Nggak adakah cara supaya aku bisa melahirkan normal bu?” Aku mengajukan pertanyaan yang sama kembali. Berharap masih ada cara lain.


“Nggak bisa ibu, mau gimana? Plasenta itu kan berisi makanan dan oksigen buat bayi. Gimana dong kalau sampai plasentanya hancur sebelum bayi keluar dari perut? Bahaya buat ibunya dan janin.”

Jelas bidan caroline lagi.


Aku sudah tak bisa berpikir dengan baik lagi. Tak bisa ku mengerti dengan baik penjelasan bidan caroline. Pandanganku sudah kabur penuh dengan air mata.


Suamiku yang berdiri disampingku pun hanya diam saja mendengarkan perbincangan bidan caroline dan aku.


“Jangan menjadi beban ya. Kalau terjadi apa-apa langsung kesini saja,” bidan caroline mengakhiri pembicaraan.


🌸🌸🌸


Seharian kucoba tetap tersenyum bersama anak-anak. Bermain dengan mereka sebagai pelipur lara. Namun tetap saja air mata tiba-tiba mengalir kembali.


“Umma tadi mas ahkam tanya loh sama kak huriyah. Adiknya perempuan atau laki-laki,” cerita kak huriyah


“Terus kak huriyah jawab perempuan lagi. Eh mas ahkam bilang hah? cewek lagi?” lanjut kak huriyah berceloteh.


“Terus kak huriyah jawab emang kenapa kalau cewek lagi? kan terserah allah mau ngasihnya apa!” sambung kak huriyah.


Aku tersenyum mendengar cerita kak huriyah, “ah sungguh anak yang masih murni. Penuh rasa syukur dan prasangka baik. Aku yang mengajarkan kepada kak huriyah. Tapi hatiku sendiri tak sepertinya.”


“Iya sayang, benar seperti itu. Terserah Allah yang memberi. Kak huriyah doain umma terus ya nak. Doain umma dan adik bayi sehat. Plasenta adik bayi bisa bergeser ke atas. Umma bisa melahirkan dengan normal,” pintaku pada kak huriyah.


“Iya umma. kak huriyah selalu doain umma kok tiap selesai salat,” jawab kak huriyah mantap.


Aku sungguh terharu. Mataku semakin berkaca-kaca, betapa baiknya hati anakku. Aku sendiri rasanya sedang jatuh ke jurang terdalam saat ini. Di satu sisi pikiranku mengatakan bahwa ini ujian, aku harus bersabar. 


Di lain sisi pikiranku malah protes kepadaNya. Sudahlah doaku ingin punya anak laki-laki tak dikabulkan. Diriku malah ditambah lagi dengan ujian seperti ini. Berat sekali rasanya.


“Sayang, coba tanyain sama eliza dong! dulu waktu lahiran section caesar dimana? trus estimasi biayanya kira-kira berapa?” suamiku bertanya sebagai persiapan.


“Iya mas. Aku tanyakan dulu ya,” segera kuambil handphoneku dan memulai chat dengan eliza.


Eliza bisa dibilang teman baikku. Aku merasa ia yang selalu setia padaku. Selalu tanpa pamrih membantuku di kota perantauan ini. 


Membantu lahir batinlah bagiku. Sering ia menjadi teman curhatku. Terkadang ia kerumahku bersama anak-anak membawa jajan untuk anak-anakku. Aku bersyukur tuhan mempertemukan dan mengenalkanku dengannya.


“Assalamualaikum tante eliza. Tante aku mau tanya dulu operasi section caesarnya dimana ya? Habis berapa?” aku memulai obrolan via telegram dengannya.


“Tadi aku ke bidan caroline, hasil USGnya prediksi perempuan lagi. Plasentaku ada dibawah menutup jalan lahir. Kemungkinan jika tidak ada pergeseran aku harus operasi,” aku mengetik isi chat sambil berlinang air mata.


Tak berapa lama pesanku dibacanya, lalu mulailah eliza mengetik balasan. Beberapa menit kemudian ia membalas pesanku.


“Ya allah tante dewi, sabar ya te. Aku dulu operasinya ya di bidan caroline. Habis sekitar delapan jutaan. Kalau rumah sakit lain rata-rata empat belas juta ke atas,” jawab tante eliza.


“Subhanallah, biaya darimana segitu? apakah kami harus berhutang lagi? Ah sungguh tak nyamn jika harus berhutang lagi. Berat sekali untuk membayarnya,” ucapku dalam hati.


“Baru delapan bulan kan te dewi? insyaallah masih bisa berubah. Coba deh ke doktor azam. Doktornya enak banget loh. Mudah-mudahan dengan bantuannya plasenta te dewi bisa bergeser ke atas,”

Jelas tante eliza. Aku sungguh terharu dengan kebaikannnya membantuku. Selanjutnya ia memberikanku beberapa saran menghadapi semua ujianku.


🌸🌸🌸


Pagi itu sambil memasak sayur asam, aku memulai pembicaraan dengan mas zanjabila, “Mas, ayo kita USG lagi dedek bayi diperut. Aku hanya ingin tahu apakah anakku sehat didalam perut. Sudah memutarkah posisinya.


Bukan tanpa alasan aku mengajak suamiku kembali USG. Padahal bulan kemarin di jawa kami sudah periksa di salah satu rumah sakit ibu dan anak. Saat itu aku memilih doktor yang bisa ditemui saja. Karena semua doktor rekomendasi sudah ramai pasien.


Dan ternyata kerja doktornya kurang memuaskan. Doktornya cenderung diam dan tidak banyak penjelasan. Ketika ditanya hanya menjawab kalau anakku sehat. Ia bahkan tak mengatakan jika plasentaku saat itu dalam posisi dibawah. 


“Atau memang saat dijawa posisi plasentaku benar-benar baik dan diatas ya?” aku bertanya dalam hati.


“Atau plasentaku ini bergeser ke bawah dikarenakan aktivitasku yang sangat tinggi ya saat hamil dua trimester awal. Aku kembali merenungkan.


Saat mudik di jawa, aku memang termasuk sering bolak-balik silaturahim dalam waktu yang cukup lama di kendaraan. Pernah aku mengendarai motor selama dua jam lebih dari pantai baron hingga kembali ke rumah ibu mertua.


Pernah lagi aku mudik ke rumah bapakku yang di solo. Lagi-lagi aku berkendara dengan motor bersama anak-anak dan suami. Tentunya aku hanya sedikit mendapat tempat duduk dibelakang. Semua terasa semakin sempit, karena perutku yang semakin membesar. 


“Aduh kenapa perutku bagian bawah sering merasa sakit ya mas?” aku mengeluhkan hal itu pada suamiku.


“Lah kenapa? Kelelahan mungkin sayang, ya sudah istirahat dulu,” jawab suamiku.


Selama kehamilanku yang ketiga ini, aku memang sering merasa sakit dibagian bawah perutku. Aku berpikir itu hanya sakit biasa karena aku kelelahan saja. Ternyata sakit yang kuderita itu adalah sinyal sejak awal karena plasenta yang letaknya terus berada di bawah.


-Bersambung-


#Hari ke2 

#TantanganMenulis15Hari





























No comments for "TERKABULNYA DOA (PART 1)"