TERKABULNYA DOA PART 2


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1a6Df6Esh8WkRbdh_NGfrmSdzpKAxv6nf


Semalaman aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan harus section caesar terus menghantuiku. Tak pernah sekalipun aku membayangkan kata caesar. Karena aku dua kali melahirkan dengan normal. Bayangkan perutku harus dibelah. Dan butuh waktu dua tahun untuk memulihkannya.


“Sudahlah nggak apa-apa, mau caesar ataupun normal. Yang penting anak dan ibunya selamat. Semuanya sehat,” beberapa orang berpesan seperti ini kepadaku.


Tapi pesan mereka sama sekali tak bisa meredam rasa sedihku. 

“Bagaimana anak-anakku jika aku operasi? siapa yang akan mengurus mereka?” pikiranku kembali gundah.


“Tak ada siapa-siapa? tak ada kepastian ibuku ataupun ibu mertua akan datang kemari!” kutatap kedua anakku yang sedang tidur dalam kegelapan. Aku duduk bersandar pada tembok, berlinang air mata dan terus berpikir.


Usai melangsungkan pernikahan kami langsung tinggal di kota yang berbeda dari orangtua. Sejak anak pertama aku melahirkan dan merawat sendiri anak-anak. Ibuku datang setelah beberapa minggu pasca aku melahirkan. 


Bahkan saat anak kedua lahir, ibuku baru sempat mendatangiku beberapa bulan pasca melahirkan. Aku paham sekali alasan ibuku tak bisa datang lebih cepat. Karena ibuku masih bekerja, sedangkan ibu mertuaku sudah terlalu tua untuk keluar kota.


“Aku tak bisa terus begini, aku harus mencari informasi. Supaya aku bisa meredam pikiran kacauku,” aku mengambil handphoneku lalu membuka google. Ku ketikkan diagnosis bidan caroline tentang kehamilanku.


Plasenta previa, istilah medis untuk kondisi kehamilan yang kualami saat ini. Plasenta previa adalah kondisi dimana ari-ari atau plasenta berada dibawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir.


Ternyata, plasenta previa ini terbagi menjadi beberapa jenis. Plasenta menutup jalan lahir secara total, plasenta menutup sebagian jalan lahir dan plasenta hanya sedikit menutupi. Aku sendiri belum mengetahui kondisiku termasuk yang mana. Karena penjelasan bidan caroline tidak selengkap itu.


“Apa penyebab plasenta previa? apakah benar karena aku yang terlalu banyak

bepergian?” pertanyaan itu muncul dalam benakku. Lalu aku mulai membaca kembali.


Penyebab plasenta previa belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang diduga dapat membuat ibu hamil beresiko menderita kondisi ini, yaitu : hamil diatas tiga puluh lima tahun, merokok saat hamil, bukan kehamilan pertama, kehamilan sebelumnya juga mengalami plasenta previa, pernah keguguran, pernah menjalani operasi pada rahim, dan sebagainya.


“Hmmh..aku hanya masuk di point bukan kehamilan pertama,” gumamku dalam hati.


Lalu aku membuka beberapa sumber lain, aku menemukan faktor lain yang kualami. 


“Pernah mengalami masalah dengan plasenta pada kelahiran sebelumnya,” bacaku.


🌸🌸🌸


Aku teringat kelahiran anak keduaku, calista. Saat itu memang terjadi masalah, ketika bidan mencoba mengeluarkan plasentaku. Yang terjadi adalah tali plasenta terputus. Penyebabnya tak aku ketahui secara pasti.


“Aduhhh.. talinya malah putus! ini ari-arinya yang lengket? atau talinya yang terlalu tipis ya?” asisten bidan caroline merasa bingung.


Berikutnya asisten bidan caroline memasangkan alat bantu pernapasan di hidungku. Tabung dan regulator oksigen pun menemaniku disamping tempat tidur. 


“Ibu, ini kami pasang infus dan alat bantu pernapasan ya! silahkan tandatangani persetujuan tindakan medis disini ya bu,” salah satu perawat menunjukkan tempat dimana aku harus tanda tangan.


“Loh kenapa ya mbak? saya harus dipasang infus dan alat bantu pernafasan?” tanyaku tak mengerti.


“Buat jaga-jaga ibu. Karena kan plasenta ibu masih tertinggal didalam. Takutnya terjadi pendarahan hebat.”


Saat itu aku benar-benar tak mengerti

kondisinya. Aku merasa tubuhku baik-baik saja, perutku pun tak merasakan sakit lagi. Saat itu pula aku pertama kali merasakan pemasangan infus dan alat bantu pernapasan.


Tak lama perawat tadi kembali kepadaku. Membawa sejumlah peralatan mulai dari jarum infus, selang infus, kapas, botol infus dan sebagainya. Aku tak terlalu asing dengan peralatan ini, karena aku pernah melihat kak huriyah saat berusia tujuh bulan dipasangkan infus.


Perawat mulai bekerja, ia membersihkan punggung pergelangan tanganku dengan kapas yang sebelumnya telah dibasahi dengan alkohol. Kemudian menggunakan jarum infus, perawat tersebut menyuntikkan cairan infus ke dalam pembuluh darah.


Saat selang  kateter dimasukkan ke dalam pembuluh venaku rasanya benar-benar tak nyaman dan sedikit nyeri. Namun setelah pemasangan infus selesai dilaksanakan rasa nyeri tersebut menghilang. 


“Sudah saya pasang ya bu, ibu tunggu sebentar. Bidan caroline segera datang,” ucap perawat sambil memegang klem selang infus. Agar laju cairan infus yang masuk ke dalam tubuh bisa diatur.


“Iya mbak,” jawabku singkat. Berbaring kembali ditempat tidur.


“Ibu merasa pusing nggak? atau sesak nafas?”tanyanya lagi sebelum beranjak pergi meninggalkanku.


“Nggak mbak, saya baik-baik saja”. jawabku lagi.


“Baiklah bu, saya tinggal dulu ya.” ucap perawat berhijab putih itu sambil tersenyum.


Tak lama bidan caroline datang bersama para asistennya. Bidan carolinepun menyapaku, “gimana bu? Ngerasa mules nggak?”


“Sedikit sih bu,” ucapku yang dari satu jam lalu sering mendapat pertanyaan yang sama.


“Maaf ini bakal sedikit sakit ya, tapi saya harus mengecek dan mengeluarkan plasenta dari rahim ibu,” ucap bidan caroline sambil  memakai sarung tangan.


“Tahan ya bu,” ucap bidan caroline meyakinkanku.


“Lah ini tuh sudah diujung plasentanya, kenapa malah pada bingung?”tanya bidan caroline pada salah satu asistennya.


“Tadi sudah saya tunggu selama tiga puluh menit ibu, tapi tak ada reaksi. Si ibu tetap tidak mules. Makanya saya tarik saja talinya. Eh..ternyata malah putus,” jawab asisten.


“Makanya sabarlah menunggu,” ucap bidan caroline sambil mengambil plasenta dari rahimku.


Saat plasenta diambil, beberapa menit aku merasakan nyeri. Namun tak lebih nyeri dari saat pembukaan.


“Ini ya plasentanya sudah bisa diambil,” kata bidan caroline sambil menunjukkan ari-ari padaku.


“Iya..alhamdulilah,” jawabku merasa lega.


Beberapa hari setelah aku diperbolehkan pulang ke rumah aku baru mengetahui apa yang aku alami. Kondisi saat ari-ari tidak bisa keluar alami setelah kelahiran bayi disebut retensio plasenta. 


Dan memang kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi yang berbahaya bagi ibu pasca melahirkan. Mulai dari pendarahan hingga kematian.


“Astaghfirullah, pantas saja para asisten terlihat sangat cemas saat aku mengatakan sama sekali tak merasakan mules. Padahal mereka sudah menyuntikkan obat ke pahaku. Obat yang katanya membantu merangsang kontraksi supaya ari-ari keluar,” aku berkata dalam hati.


Untungnya saat itu tak terjadi pendarahan hebat. Aku tetap baik-baik saja. Semua pastilah karena pertolongan tuhan. Dan sekarang aku dihadapkan kembali dengan ujian melalui plasenta.


🌸🌸🌸


Keesokan harinya, aku bangun dengan  mata sembab dan bengkak. Aku masih tetap menangis lagi jika teringat perkataan bidan caroline. 


Semalam pun aku sudah mencari cara agar plasenta bisa berpindah ke atas. Namun tak ada cara apapun yang bisa merubahnya ke atas.


Pengobatan plasenta previa yang disebutkan hanyalah tentang penanganan dalam pencegahan terjadinya pendarahan. Dengan lesu aku ceritakan pada suamiku tentang hasil pencarianku semalam.


“Mas katanya tak ada cara yang bisa kita lakukan untuk mengubah ari-ari ke atas. Tak ada cara lain selain berdoa. Yang bisa merubahnya hanya tuhan.” Aku tertunduk sedih kembali.


Suamiku datang memelukku lalu mengelus punggungku, “sudahlah sayang, tak usah terlalu dipikirkan ya. Nanti insyaallah kita ke doktor azam saja ya. Mudah-mudahan disana kita bisa mendapat opini yang berbeda.”


“Iya mas,” ucapku masih penuh air mata dan kesedihan. Rasanya ingin kuhabiskan saja air mataku saat itu. Agar aku tak sedih lagi. Karena aku tahu saat kondisi ibu tertekan maka bayi di dalam janin pun ikut merasakan.


“Sayang mulai salat tasbih lagi, ajak bicara bayinya ya. Minta ia membantu sayang agar temannya bisa pindah ke atas. Berdoa terus dan yakinlah pasti tuhan mengabulkan. Nanti mas dan anak-anak  bantu doa juga,” ucap suamiku penuh kelembutan.


“Iya umma, kak huriyah semalam habis salat isya juga sudah doain umma kok,” ucap huriyah duduk mendekat kepadaku.


“Iya kak huriyah, terima kasih ya sudah bantu ibu,” aku memeluk tubuhnya dengan tanganku dan mengecup keningnya. Lalu mengelus kepalanya.


“Adek juga mau doain umma sama adik bayi dipelut,” ucap calista. Meski ia belum terlalu mengerti masalah apa yang terjadi pada ummanya.


“Alhamdulilah, nanti adik bayi diperut diajak bicara juga ya kak huriyah. Sama adek calista juga. Ajak bantuin umma ya?”   Suamiku tersenyum ikut bahagia mendengar ucapan kedua putrinya.


Aku memandang keluargaku, “ya, aku masih punya mereka. Mereka yang menyayangiku dan dengan tulus akan mendoakanku. Aku harus bangkit dan berjuang bersama mereka.”


-Bersambung-


#Hari ke13

#TantanganMenulis15Hari

#KMPEdwrite

#EdwriteAcademy











No comments for "TERKABULNYA DOA PART 2"