TERKABULNYA DOA PART 3


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1Kdy_SLrdqgL7ln1mGb9nLwDPnvMMoN8q


“Melahirkan seharusnya menjadi pencapaian terbesar Anda. bukan ketakutan terbesar”, kutipan buku terbarunya bidan yessi aprilia.


Sudah tiga puluh menit ku lewati dengan membaca beberapa point buku gentle birth balance. Dan aku merasa seperti mendapat tempat bersandar. Aku mulai mendapat cahaya terang dari keterpurukanku. 


Buku gentle birth ini dipinjamkan oleh temanku, eliza. “Ini umma dewi, aku pinjamkan bukuku. Semoga saja setelah membaca buku ini umma dewi mendapat pencerahan dan kembali bersemangat.”


“Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang akan memotivasi? saudara belum tentu, tetangga apalagi,” ucapnya sambil tertawa kecil. Mengingat betapa pahitnya kenyataan. Bahwa lebih banyak orang mencibir daripada mencoba menyemangati.


Aku terharu saat itu pula. Bersyukur karena tuhan memberiku teman di kota perantauan ini. Beruntungnya aku memiliki teman yang dalam tindakan dan ucapannya selalu peduli padaku.

“Masya Allah, eliza...terima kasih sekali.” ucapku dengan mata berkaca-kaca.


“Iya sama-sama umma dewi,” jawabnya sambil tersenyum. Ia mengantar kepulanganku sampai halaman depan rumahnya.


“Hati-hati ya umma dewi pulangnya, mudah-mudahan sehat terus ya!” kembali ia mengingatkanku yang akan pulang ke rumah dengan mengendarai motor.


🌸🌸🌸


Sejak membaca halaman awal pun aku merasa seperti diingatkan dan disadarkan akan anugrah tuhan yang terlupakan. Bahwa kehamilan, melahirkan, menyusui dan pengasuhan adalah sebuah siklus alami yang di desain sempurna dan ajaib oleh sang pencipta.


Tuhan sebenarnya sudah menyiapkan segala sesuatu di dalam tubuh kita. Saat kita rileks dan tenang, maka otot, hormon dan semua syaraf di dalam tubuh kita sebenarnya dapat bekerja secara harmonis dalam proses persalinan.


“Masya Allah, tuhan mempercayakan diriku dengan amanah. Aku diberinya mahluk kecil yang hidup di dalam rahimku. Tapi yang aku lakukan? aku malah lebih sering mengeluh tentang kondisi tak nyaman semasa kehamilanku. Astaghfirullah,” aku menyesal mengingat perilaku ku belakangan ini.


Bidan yessi dalam bukunya juga mengajak kita menyadari tentang qodrat kita sebagai wanita. Wanita itu kuat dan tubuhnya memang di desain untuk melakukan tugasnya, yaitu melahirkan keturunan.


“Sering-sering berkomunikasi dengan bayi  merupakan salah satu langkah suksesnya gentle birth. Afirmasi positif secara terus menerus sangatlah penting bagi ibu dan bayi,” penjelasan dalam buku gentle birth ini kembali seolah menegurku.


“Astaghfirullah..aku sangat jarang berkomunikasi dengan janinku. Berbeda saat aku hamil kak huriyah. Aku sering sekali berbicara padanya,” ucapku dalam hati menyesali kekuranganku.


Point berkomunikasi dan afirmasi positif inilah yang selanjutnya terus aku lakukan hingga detik-detik menjalani persalinan. 


Aku buka-buka kembali halamannya. Sekilas aku melihat beberapa gerakan yoga selama kehamilan. Tiap trimester memiliki gerakan yang berbeda pula.


Aku mencoba mencari beberapa gerakan hingga mataku berhenti pada tulisan “gerakan ini tidak bisa digunakan pada ibu dengan kondisi plasenta previa.”


Aku menyimpulkan “berarti hamil dengan kondisi seperti diriku malah harus menurunkan aktivitas dan olahraga berat. Aku harus berhati-hati, jika salah bisa-bisa gerakan senam yang aku lakukan membahayakan janinku.”


“Lalu aku harus bagaimana?” pikirku.


“Jika aku tak melahirkan dengan normal itu berarti aku tak bisa menggunakan kemampuan alami yang tuhan beri?” pertanyaan kembali muncul dibenakku.


Tiba-tiba mataku tertarik pada satu kalimat “gentle birth adalah soal pasrah dan berserah pada kehendak bayi tentang bagaimana cara ia lahir ke dunia”.


Ketika segala daya dan upadaya sudah kita lakukan. Namun pada akhirnya karena sesuatu hal membuat ibu harus melahirkan dengan operasi section caesar. Bukan berarti ibu gagal dalam menerapkan gentle birth.


Karena yang terpenting adalah ibu merasa  nyaman, tenang dan penuh kelembutan. Bisa menikmati proses persalinan sebagai pengalaman yang menyenangkan dan membahagiakan.


🌸🌸🌸


Kembali tuhan menghadirkan kedamaian dalam hatiku. Setelah dipertemukan dengan bidan yang luar biasa lewat buku. Tuhan mempertemukan aku dengan seorang doktor hebat pula, doktor azam.


Pagi itu aku, suami dan calista sampai disebuah rumah sakit bersalin ibu dan anak yang didirikan oleh doktor azam.


“Wah,,ini rumah sakit doktor yang mendirikan? Uangnya kok banyak sekali ya! Hebat! ucapku penuh kekaguman.


“Sepertinya sponsornya ada banyak,” ucap suamiku.


“Maksudnya mas?” tanyaku. 


“Yah pastinya mas rasa banyak yang investasi dirumah sakit ini. Kalau untuk dana sendiri mas rasa nggak mungkin ya,” suamiku menjelaskan pemikirannya.


“Oh begitu,” aku menganggukkan kepala mulai mengerti penjelasan suamiku.


Saat pintu masuk dibuka kami dimanjakan dengan pemandangan kursi-kursi panjang dari batang pohon di sisi sebelah kanan. Tentu saja kursi-kursi ini untuk ruang tunggu pasien. 


“Masyaallah ini kursi koq panjang dan lebar sekali ya mas? Natural sekali pula, karena serat-seratnya yang terlihat,” ucapku penuh kekaguman.


“pohon jati itu,” ucap suamiku singkat.


“Serius mas?” tanyaku. 


“Iyalah, serius.” jawab suamiku.


Kursi-kursi panjang ditambah dekorasi bunga-bunga cantik menghiasi tiap pojok ruangan. Jendelanya pun berukuran besar dan bening. Semakin menambah kesan bersih dan sehat rumah sakit ini.


Kami lalu menuju ke meja informasi. Aku mulai mengambil nomor antrian. Selanjutnya seperti biasa, aku melakukan pendaftaran dan mendapat kartu pasien dari rumah sakit ibu dan anak ini.


Tak jauh dari meja informasi terpajang motor harley davidson. Disekeliling motor diberi pagar pembatas besi berwarna merah.


“Mengapa ada motor diruangan rumah sakit seperti ini?” aku bertanya sendiri dalam hati.


“Ibu dari sini menuju ke atas ya! ruangan doktor azam ada diatas sebelah kiri. Doktornya sudah datang kok, silahkan menunggu antrian disana,” ucap pegawai dibagian informasi sambil tersenyum.


“Wah pelayanannya sungguh menyenangkan. Rumah sakitnya pun bersih, indah dan nyaman. Sesuailah dengan biayanya. Ini baru namanya hospitality industry,” ucapku dalam hati.


Hiasan penari balet yang bergelantungan di atap membuat mata kami kembali dimanjakan.

“Umma itu apa? princess kah?” tanya adik calista sambil menunjuk hiasan diatas.


“Itu penari balet sayang. Adik calista ingat video princess sofia nggak? Nah di video itu princess sofia, princess amber dan princess carine menari balet,” aku mencoba mengingatkan calista.


“Oh iya umma, adik ingat koq..gini kan narinya?” Jawabnya sambil mencoba berjinjit memperagakan gerakan tari balet yang ditontonnya.


Akupun tertawa melihatnya,”nah iya, betul sayang, begitu.”


“Wah ada prosotan dan rumah-rumahan”, kata suamiku.


“Mana abi? mana?” tanya calista bersemangat gantian mendekati abinya yang berada di depan.


“Itu loh,” menunjuk ke arah arena permainan anak.


“Wahhhh,” mata calista berbinar melihat arena permainan anak tersebut.


Arena permainan itu sudah dipenuhi beberapa orang anak. Letaknya berdekatan dengan ruangan doktor spesialis anak. Pastinya setiap anak yang ikut ke rumah sakit bersama orangtuanya akan langsung bermain di arena tersebut. 


“Hmmh adik calista boleh main prosotan, tapi sarapan dulu ya. Biar kuat nanti mainnya. Yuk makannya duduk. Adik calista pilih duduk dikursi warna apa?” tanya abinya.


“Warna merah abi,” kata calista bersemangat.


Beberapa menit kemudian calista sedang asyik menikmati sarapannya. Ia duduk di kursi berwarna merah. Kotak makannya diletakkan di meja bulat berwarna kuning. Abinya dengan sabar menyuapi calista. Calista makan dengan senang hati sambil melirik ke sekitar. 


“Wah kelihatannya calista senang sekali. Selain memang menu sarapan itu favoritnya. Sepertinya suasana yang berbeda dan keinginan segera ikut bermain membuatnya makan dengan cepat,” gumamku dalam hati. Tersenyum ikut bahagia melihatnya makan.


Sejenak aku melupakan ke khawatiranku yang masih tersisa tentang kondisi kandunganku. 


“Semoga saja disini aku bisa mendapat opini berbeda. Bisa mendapatkan harapan bisa melahirkan bayiku dengan normal, sehat dan selamat” doaku dalam hati.


🌸🌸🌸


Beberapa jam kemudian namaku dipanggil masuk ke dalam ruangan doktor azam. Lumayan lama kami menunggu, padahal kami sudah berangkat pagi sekali agar tidak terlalu lama antri.


Namun tetap saja, pasien doktor azam tak pernah sepi. Padahal doktor azam sendiri setiap harinya buka praktik dari jam delapan pagi hingga jam sepuluh malam. Bahkan sempat beberapa orang bercerita padaku, doktor azam menyelesaikan pasiennya hingga tengah malam.


“Bagaimana bu? ada masalah dengan kehamilannya?” tanya doktor azamm kepadaku. Dokter azam yang meski sudah tua, tapi terlihat masih bugar.


Akupun mulai menceritakan diagnosa bidan caroline kepadaku, “begini dok, seminggu yang lalu bidan caroline mengatakan bahwa ari-ari saya berada dibawah.”


“Ehhhm.. baiklah, coba kita lihat dulu ya bu!” ucap doktor azam bersiap memeriksaku dengan alat USG. 


Tidak seperti kebanyakan doktor yang berpakaian kemeja dan celana kulot berwarna hitam. Dokter azam memakai kaos bergambar motor david harley dengan celana jeans berwarna biru.

“Wah doktor azam stylenya gaul juga ya. Mirip style suamiku,” aku tertawa dalam hati.


Mulailah doktor azam menggerakkan transducer dan menjelaskan semuanya secara detail, “ini bayinya bagus, tak ada masalah. Ini kepalanya ya bu, yang ini wajahnya. Baik, bibirnya bagus tak ada masalah. Air ketubannya juga bagus.”


Dokter azam kembali menjelaskan “Bayinya baik ibu, sehat juga. Benar memang, letak plasenta ibu berada dibawah. Namun tak masalah, melihat kehamilan ibu baru tiga puluh satu minggu.”


“Ada kemungkinan masih bisa bergeser ke atas kah doktor?” tanyaku.


“Bisa bu,” jawab doktor azam. Jawabannya bagai cahaya yang menerangi hatiku. Harapan itu ada.


“Jadi begini ya ibu. Yang namanya plasenta, pada awalnya memang berada dibagian bawah rahim. Nah, seiring pertambahan usia kehamilan dan perkembangan rahim. Plasenta akan bergerak ke atas,” Doktor azam menjelaskan sambil menyelesaikan pemeriksaanku.


Selanjutnya kami melanjutkan konsultasi di meja doktor azam, “Sekarang yang harus ibu jaga adalah jangan sampai terjadi pendarahan. Apalagi jika usia kehamilan belum cukup umur.”


“Yang dikhawatirkan jika terjadi pendarahan sebelum waktunya adalah resiko bayi lahir prematur, berat badan rendah, dan paru-paru bayi belum matang,” Doktor azam kembali menjelaskan.


“Untungnya ibu selama kehamilan tidak pernah pendarahan atau flek. Mudah-mudahan sampai seterusnya tetap seperti itu. Namun ibu harus tetap waspada, ibu harus bedrest ya. Aktivitasnya ya hanya berbaring, makan, pokoknya yang perlu saja. Hindari olahraga berat dan hubungan intim,” doktor azam menjelaskan sambil sesekali memperbaiki kacamatanya.


“Hah? hanya makan dan tidur? mana bisa aku begitu, anak-anakku bagaimana?” aku bertanya dalam hati.


-Bersambung-


#Hari ke14

#TantanganMenulis15Hari

















No comments for "TERKABULNYA DOA PART 3"