TERKABULNYA DOA PART 4


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1aaQoyE_SweRVnw0ERi5WR4nqIv-MQ1lN


“Ibu silahkan pilih mau operasi kapan? Kalau mau sekarang ibu urus administrasinya, hari ini rawat inap. Besok ibu operasinya ditangani oleh saya,” ucap doktor perempuan berhijab motif bunga-bunga dan mengenakan kacamata.


“Gimana mas? mau operasi kapan?” Aku menoleh bertanya pada suamiku.


“Terserah sayang saja siapnya kapan. Mas sih ikut saja,” jawab suamiku dengan tenang.


Aku masih bingung memutuskan. Di satu sisi aku takut menjalani operasi. Di sisi lain aku harus operasi untuk menyelamatkan janin yang kukandung.


Dokter alya sepertinya paham akan dilema yang ku alami, “baiklah bu, kalau belum siap ya nggak apa-apa. Ibu bisa pulang dulu, tenangkan diri. Berikutnya silahkan putuskan ibu mau operasi kapan.”


Aku bertanya pada doktor alya,”Doktor kalau saya memutuskan operasi besok. Apakah saya diperbolehkan kembali kerumah untuk bersiap-siap?”


“Oh boleh bu, Mangga..” jawab dokter alya dengan logat dan bahasa sundanya.


“Kalau saya jadi operasi sekarang, prosedur apa saja yang harus saya lakukan bu?” tanyaku kepada doktor alya.


“Ibu tinggal bawa surat keterangan tindakan operasi dari saya ke bagian registrasi dan pembayaran. Nanti ibu akan ditempatkan di kamar rawat inap terlebih dahulu. Baru besoknya ibu operasi dengan saya,” doktor alya menjelaskan prosedur secara terperinci.


“Bagaimana bu?” tanya doktor alya lagi sambil tersenyum ramah. Tanpa adanya paksaan untuk segera melakukan operasi.


Aku pandangi kedua anakku yang sedang asyik bermain di ruangan doktor spesialis kandungan. Mereka berdua sedang asyik bercermin di sebuah cermin besar yang terpasang di salah satu tembok ruangan.


“Baiklah bu..saya akan operasi besok,” aku mengumpulkan semua keberanianku hari itu untuk memutuskan dan menghadapi operasi. 


Aku yakin ini keputusan tepat. Karena jika aku operasi hari rabu anak-anak bisa aku titipkan sepenuhnya dengan mbak aini. Setiap hari rabu mbak aini mendapat jatah libur kerja.


🌸🌸🌸


Lalu aku bersama anak-anak dan suami bergegas mengurus prosedur rawat inap dan operasi. Saat itu kelihatan sekali kedua anakku mulai kelelahan dan mengantuk. Sejak tadi pagi mereka ikut bersamaku ke rumah sakit umum daerah. Hingga lewat jam makan siang,mereka masih di rumah sakit.


“Sayang, mau ambil kelas berapa buat rawat inapnya? Kalau kelas tiga perkiraan total biayanya sekitar empat jutaan. Jika kelas dua sekitar enam jutaan,” ucap suami.


“Bedanya apa mas kelasnya?” tanyaku sambil memangku calista yang mulai mengantuk dan rewel minta pulang.


“Hmmmh...hanya fasilitasnya saja sih. Kalau kelas dua pakai AC. Kelas tiga pakai kipas. Sama-sama satu ruangan ditempati maksimal enam orang,” jawab suamiku.


Aku tak mungkin mengambil kamar kedua, uang tunjangan yang didapat suamiku nanti hanya sekitar empat juta. Pastinya kebutuhan yang lain selama dirumah sakit juga banyak. 


Aku tak mau berhutang lagi kepada siapapun. Rasanya sungguh berat. Dan lagi aku tak tahan jika harus berada di kamar AC. Pengalamanku melahirkan sebelumnya di ruang AC. Membuatku merasa tak nyaman karena kedinginan.


“Sudahlah sayang, ambil kelas tiga saja ya,” ucapku mantap pada suamiku.


Kami berpindah menuju ruang kamar rawat inap. Disana ada beberapa bidan junior yang memperkenalkan diri kepadaku. Mereka memberitahuku beberapa peraturan saat bertempat di kamar rawat inap.


“Anak-anak nggak boleh masuk ke kamar ya bu! sebaiknya anak-anak memang tidak boleh ikut. Ibu tahu kan rumah sakit banyak sumber penyakit? kasihan anak-anaknya,” jelas salah satu bidan yang bertubuh tinggi dan kurus.


“Terus anak-anak saya gimana mbak? kalau nggak boleh ikut?” tanyaku kebingungan.


“Ya sama neneknya saja atau keluarga yang lain,” jawabnya singkat.


“Nggak ada mbak. Kami disini merantau jauh dari keluarga dan orangtua,” jawabku mulai sedih memikirkan anak-anak.


“Ya pokoknya peraturannya seperti itu ya ibu. Dimana-mana juga begitu. Itu sudah jadi standar rumah sakit,” jawab bidan ketus.


Aku pandangi calista yang sudah tidur dipangkuan abinya. Lalu aku pandangi kak huriyah yang duduk denganku. Di wajahnya terlihat beberapa cacar yang mulai mengering. 


“Kak huriyah cacar airnya saja belum sembuh benar. Tapi harus aku tinggal beberapa malam. Mudah-mudahan cacar ini tak tertular pada mas ahkam jika ia menginap dirumahnya,” aku berharap dalam hati.


“Lalu..bagaimana adik calista tidur malam

ini tanpa ibunya?” aku kembali bertanya dalam hati.


“Ibu langsung masuk ke kamar rawat inapnya saja kalau begitu,” ucap bidan lain yang daritadi menulis identitasku.


“Mbak saya mau pulang dulu untuk bersiap-siap. Kalau sudah nanti saya kembali lagi kesini,” ucapku sambil melirik jam di dinding ruangan. Kami harus bergegas pulang karena waktu salat zuhur hampir habis.


“Maaf bu, ibu nggak diperbolehkan pulang. Kalau mau siap-siap biar bapaknya saja yang menyiapkan,” ucap bidan yang kurus tinggi dengan nada ketus.


“Loh kenapa? tadi katanya doktor saya boleh pulang dulu,” ucapku.


“Pengalaman kami ya bu, pernah ada pasien yang minta pulang seperti ibu. Eh setelahnya ia nggak balik-balik lagi kesini,” jawabnya masih dengan nada yang tidak ramah.


“Astaga.. seginikah rumah sakit umum?” ucapku dalam hati. Aku benar-benar tak mengerti dengan pelayanan yang sama sekali tak ada ramah-ramahnya terhadap pasien.


Suamiku akhirnya menjawab, kelihatannya ia kesal sedari tadi mendengar obrolanku dengan bidan. “Bu nggak usah khawatir, saya bakal balik lagi kesini sama istri saya. Saya sendiri yang nanti mengantarkan istri. Istri saya belum punya persiapan apa-apa. Karena kami tadi kesini rencananya hanya mau periksa biasa bukan operasi.”


“Kalau memang saya tidak boleh pulang dulu. Saya batalkan saja mbak, saya operasinya hari lain saja. Biar saya bisa siap-siap dulu,” Aku menambahkan ucapan suamiku.


“Baiklah, ibu boleh pulang hanya sampai setelah waktu salat asar. Maksimal jam empat sore ibu sudah harus ada disini”, bidan berkata dengan tegas.


“Ya,” kata suamiku singkat lalu mengajakku pulang.


🌸🌸🌸


Sepulangnya dari rumah sakit umum anak-anak tertidur lelap. Akupun bergegas salat zuhur dan bersiap-siap. Aku hanya tinggal menambahkan beberapa baju dan perlengkapan mandi di tas bayi.


Lalu aku sibuk merendam tempe dalam bumbunya, pikirku “Nanti jika anak-anak bangun dan mau makan, abinya tinggal menggoreng tempe.”


“Abi, nanti kalau anak-anak mau makan di kulkas ada nugget dan bakso ya. Ada somay dan pempek juga kalau mereka mau ngemil,” ucapku pada abinya sambil menyapu rumah. 


Sudah sejak beberapa minggu yang lalu aku mencicil membuat frozen food. Agar ketika aku tinggal melahirkan dan menginap di rumah sakit anak-anak punya stock makanan.


Setelah menyapu dan mencuci piring. Aku mulai bersiap-siap mandi dan melaksanakan salat asar. Saat jam dinding menunjukkan pukul setengah empat aku sudah bersiap-siap berangkat bersama suami.


“Adik calista dirumah dulu saja ya sama kakak huriyah. Abi mau mengantarkan umma lagi kerumah sakit. Hanya sebentar kok, mau ya?” Abi berkata sambil berjongkok agar sejajar pandangan matanya dengan calista.


“Iya abi, adik berani kok dirumah sama kakak huriyah saja,” jawabnya menurut sambil tersenyum.


Saat kami hendak berangkat, calista menatap kami berdua dari jendela di dalam rumah. Ia tersenyum berdiri disana melihat kami. 


Aku melambaikan tangan sambil tersenyum kepadanya,”ah sayangku yang sebentar lagi jadi kakak. Ia sangat imut, lucu dan menyenangkan. Ibu pergi dulu ya sayang.”


Air mataku berderai dalam perjalanan. Akhirnya mau tak mau aku harus menjalani hari ini. Aku harus kuat dan memberanikan diriku sendiri. 


🌸🌸🌸


“Ibu sekarang usia kehamilan sudah tiga puluh enam minggu. Plasentanya masih berada dibawah, kelihatannya sangat kecil sekali kemungkinannya ibu bisa melahirkan normal. Karena yang saya lihat plasenta itu tebal sekali menutup jalan lahir,” jelas doktor azam.


Aku tertunduk lesu, tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku sudah terlalu pasrah dengan apapun hasilnya. Selama lebih dari sebulan aku terus berdoa, salat malam dan salat tahajud. Aku minta keajaiban dari tuhan agar aku bisa melahirkan dengan normal. Aku pun sering  berkomunikasi dengan janin dan plasenta. 


Aku minta supaya mereka bekerja sama denganku, “bergeserlah ke atas.”


Akupun mengerjakan pekerjaan rumah secukupnya. Jika lelah aku akan beristirahat. Prioritasku adalah menjaga bayiku tetap tumbuh dan berkembang hingga usianya dinyatakan siap untuk dilahirkan.


“Alhamdulilahnya, ibu sampai sekarang baik-baik saja tidak ada pendarahan. Bayinya juga baik-baik saja. Mudah-mudahan tetap seperti ini sampai usia tiga puluh tujuh minggu ya bu. saat itu berat badan sudah cukup dan paru-paru sudah matang,” ucap doktor azam.


“Ini ya ibu, saya buatkan surat keterangan tindakan operasi. Seminggu lagi ibu kesini langsung rawat inap, besoknya operasi dengan saya. Silahkan ibu mau operasi dimana. Tidak disini juga boleh, nanti tinggal berikan surat saya saja,” doktor azam mengeluarkan surat dari lacinya. Lalu menulis identitas, diagnosa dan tanggal operasi.


“Yang harus benar-benar diwaspadai ini pendarahannya bu. Wallahualam ya, tapi kita harus persiapan. Karena pendarahannya ini tidak bisa diprediksi. Jika terjadi pendarahan, pendarahannya bukan netes biasa bu. Pendarahannya ini mengalir deras yang berbahaya buat ibu dan janin. Pendarahannya bisa hebat menyebabkan kematian,” ucap doktor azam menjelaskan.


“Karena itu untuk kasus kehamilan dengan kondisi plasenta previa, saya sarankan ibu melahirkan ditempat yang terdapat bank darah dan ada NICUnya. Sehingga jika terjadi seperti yang saya katakan rumah sakit sudah siap menangani,” doktor azam kembali menjelaskan.


“Tapi semoga itu tidak terjadi pada ibu ya. Jika terjadi apa-apa sebelum seminggu, ibu bisa langsung kesini ya,” ucap dokter azam tersenyum dan mengakhiri konsultasinya.


🌸🌸🌸


“Gimana mas? mau operasi dimana? kalau sarannya tante eliza, jika memang yang kita butuhkan rumah sakit seperti disebutkan doktor azam. Maka yang pastinya memiliki semua fasilitas tadi ya rumah sakit umum dengan harga yang relatif murah,” aku menyampaikan pesan eliza kepadaku.


“Hmmmh ya sudah seperti itu saja, sabar ya sayang. Tetep berdoa terus sampai akhir ya. Kita yakin jika allah berkehendak yang tidak mungkin menjadi mungkin,” ucap suamiku.


Selama seminggu aku masih berdoa, salat dan berkomunikasi dengan janin. Anak-anak ikut mendoakanku. Suamikupun tak kalah, ia juga ikut salat dan mendoakanku.


“Ini sayang, sudah kubayar. Sayang periksanya hari ini jadwalnya sama doktor alya,” ucap suamiku menyerahkan kuitansi pembayaran pemeriksaan kehamilan rumah sakit umum


“Beneran mas? wah alhamdulilah. Doktor alya ini kerja juga loh di rumah sakitnya doktor azam,” ucapku penuh syukur.


“Wah.. berarti juniornya doktor azam dong,” suami berkata sambil tersenyum.


“Iya mas,” ucapku.


Begitulah, hari itu kami hanya berencana untuk periksa biasa. Harapannya setelah seminggu ada keajaiban dari tuhan. Namun ternyata takdirnya aku harus rawat inap dan operasi section caesar keesokan harinya.


🌸🌸🌸


Usai salat maghrib dan membaca alquran ada suara yang kukenal memanggil, “umma kami datang..” kak huriyah datang kepadaku mengenakan jilbab hijau dan baju tidur panjang.


“Umma kok salat disini?” tanyanya kepadaku.


“Iya kak. Umma salat di kamar sajalah. Kalau mau ke musala kan jauh sekali,” jawabku.


“Umma..ini adik calista bawain minuman buat umma,” calista menyusul masuk kekamar sambil menyerahkan minuman isotonik rasa stroberi padaku.


“Wah, terima kasih. Tadi beli di mesin minuman didepan ya? tanyaku sambil tertawa membayangkan ekspresi mereka yang pastinya takjub  dengan mesin otomatis penjual minuman.


“Iya umma..tadi tinggal tekan gambarnya terus keluar loh umma,” kak huriyah bercerita penuh antusias.


“Abi beli yang lasa jeluk nipis loh umma,” ucap adik calista.


“Wah iya.. enak nggak ya?”tanyaku


“Enak kok,” jawab mereka serempak.


Berikutnya kami asyik berbincang. Aku menikmati tawa canda mereka. Sejenak melupakan kekhawatiranku pada mereka saat aku tak ada. Melenyapkan ketakutan dengan meyakinkan diriku bahwa adik bayi pasti bahagia saat bertemu kakak-kakaknya.


Tak terasa sudah jam setengah delapan malam. Sebentar lagi jam mengunjungi pasien usai. Suamikupun mengajak anak-anak pulang. Ia mengingatkan jika terlalu malam pulangnya, khawatir anak-anak mengantuk di motor.


“Besok kesini lagi ya liat adik bayi insyaallah. Sekarang kakak huriyah sama adik calista pulang dulu ya!” malam ini tidurnya sama abi dulu,” ucapku sambil membelai kepala dan mencium kening mereka berdua.


“Kok umma nggak ikut pulang?” tanya adik calista.


“Umma disini dulu ya sayang, umma mau persiapan buat lahiran adik bayi besok. Makanya umma belum bisa pulang sama kakak dan adik,” ucapku coba menjelaskan pada calista yang baru berumur tiga tahun dua bulan.


Mereka mengangguk setuju berjalan digandeng abinya. Aku ikut mengantar mereka hingga depan gerbang penutup area kamar rawat inap ibu hamil. Sampai di depan gerbang aku hanya menatap mereka berdua. Sesekali kak huriyah masih menoleh ke belakang melihatku dengan wajah sedih.


“Ah malam ini umma sendirian, tak seperti biasanya ada anak-anak yang berada disampingku. Dengan suka cita mendengarkan umma membaca buku cerita,” ucapku dalam hati mengingat kebiasaanku dan anak-anak sebelum tidur.


Akupun masuk ke dalam kamar rawat inap dan duduk di tempat tidur. Ada tiga pasien selain diriku yang mengisi kamar ini. Disebrangku ada seorang wanita yang kelihatannya lebih muda dariku. mukanya sangat imut, suaminya duduk disamping tempat tidur menemaninya.


“Loh tadi mana anaknya bu?” tanya suaminya.


“Oh pulang mas, kan sudah malam.” jawabku.


“Teteh mau operasi ya?” tanya istrinya.


“Iya besok..” jawabku sambil tersenyum.


Setelah berbincang sejenak perawat pun datang kepadaku dengan membawa sejumlah peralatan infus. Akupun kembali merasakan infus kedua kalinya. Lagi-lagi saat akan melahirkan.


Kulihat dari semua pasien yang ada di ruang inap ini hanya aku yang sendirian. Tak ada pilihan lain karena kami hanya berdua. Jadilah aku yang harus sendiri. Biarlah anak-anak bersama suamiku.


“Ah.. apa ini? darimana aku bisa berpikir aku hanya sendiri. Tentu saja tidak, tuhan ada bersamaku. Malaikat selalu menjagaku. Dan ada mahluk hidup lain di dalam perutku,” mendadak aku tersadar akan hal ini.


“Padahal aku yang sering bilang ke kak huriyah jangan pernah merasa sendiri meskipun umma, abi, adik ataupun orang lain tak bersamamu. Kita tak pernah sendiri, ada tuhan yang selalu bersama kita,” aku teringat ucapanku pada kak huriyah.


Tiba-tiba aku mendapat pesan whats app dari suamiku. Suamiku mengirimkan sebuah video kepadaku dengan tulisan “ini sih kakak huriyah perjalanan pulang dimotor hanya diam saja. Sampai rumah sudah menangis katanya kangen umma.”


“Masyaallah si kakak,” ucapku dalam hati penuh haru.


Akupun ikut menangis membaca tulisan dan menonton videonya. Video singkat memperlihatkan kak huriyah yang pipinya berlinang air mata. Lalu ada abi disampingnya dan adik calista dibelakang yang menghiburnya. Mengajaknya bercanda hingga akhirnya tertawa.


Kak huriyah yang sering bertengkar dengan umma. Tapi begitu jauh dari umma langsung rindu, “Ah tuhan, terimakasih sudah memberikanku kak huriyah yang sholihah dan menyayangiku.”


-Bersambung-


#Hari ke15

#TantanganMenulis15Hari
















No comments for "TERKABULNYA DOA PART 4"